Mengembangkan Sisi Introversi dengan Kesabaran

Kalau dalam tipologi kepribadian Jung, ada yang namanya introvert dan ada yang namanya extrovert. Bagi orang introvert, energi didapatkan ketika dalam kesendirian, sedangkan bagi orang extrovert, energi didapatkan dalam keramaian atau bersama orang lain. Ciri khas dari introvert adalah berfokus pada kemampuan diri sendiri, gampang terusik dengan keberadaan orang lain. Bagi orang extrovert, ciri khasnya adalah kolaborasi atau bergantung pada orang lain dalam mengerjakan sesuatu, di situlah dia mendapatkan energinya.

Setiap manusia pasti kalau nggak cenderung ke introvert, dia cenderung ke extrovert, nggak ada yang di tengah-tengah, dan jarang banget ada orang yang 100% introvert atau 100% extrovert, itu berbahaya!

Persoalan bagi seorang extrovert, akan menjadi masalah ketika dia diharuskan fokus untuk mengerjakan sesuatu yang harus dia kerjakan sendiri, bukan berkolaborasi bersama orang lain. Itu jadi masalah. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Oke, kita kan pasti nggak bisa menyuruh tugas untuk mengerjakan dirinya sendiri. Kita harus mengerjakannya. Nah, untuk bisa mengatasinya, mengatasi sisi extrovert kita yang berontak, maka kita harus sabar. Fokus dalam mengerjakannya. Dan jangan mengkhawatirkan berbagai tekanan yang datang. Terus saja berlari. Abaikan semua gangguan.

Share "Mengembangkan Sisi Introversi dengan Kesabaran"

Share on: FacebookTwitter

Merangkap Malam...

Malam yang sunyi…

Ya, aku sendiri…

Kau?

Tidakkah kau mau duduk bersama di sampingku?

Share "Merangkap Malam..."

Share on: FacebookTwitter

Bukankah Kehidupan Kita (hanyalah) Estafet dari Kehidupan Sebelumnya?

Terkadang aku merasa heran kepada diri kita sendiri, sebagai manusia. Mengapa kita tidak bisa melakukan sesuatu yang orang dulu bisa melakukannya? Mengapa kita selalu merasa lemah? Mengapa kita selalu merasa tidak mampu? Mengapa kita masih saja suka menunda waktu? Mengapa kita nggak bisa efektif? Mengapa kita nggak bisa efisien? Mengapa kita masih lemah itu? Mengapa kita masih lemah ini? Mengapa kita nggak fokus? Mengapa kehidupan kita (katanya) semakin parah? Mengapa mesti terjadi penurunan?

Kawan…

Tidakkah kau merasa semua ini aneh?

Pernahkah kamu didongengkan oleh orang tua kalian tentang sejarah masa lalu kalian? Sejarah kebanggaan bangsa kalian? Entah itu sejarah bangsa ini ataupun sejarah agama ini? Ataupun sejarah suku kalian? Klan kalian? Mengapa selalu diceritakan bahwa pada zaman dahulu, kita adalah bangsa yang maju, suku yang maju, marga yang maju, klan yang maju, sedangkan berikutnya dijelaskan bahwa pada zaman sekarang ini terjadi penurunan, degradasai, penurunan kualitas, amoralitas, kebejatan merajalela, kehancuran di mana-mana, hilangnya akhlak, hilangnya akal, hilangnya kehormata, putusnya estafet sejarah kebanggaan suku kita.

Sebentar…

Mengapa bisa terjadi?

Mengapa kehidupan kita ini lebih rumit daripada baris-baris sintaks yang menemani kebosanan kehidupanku?

Ya, mungkin bagi sebagian besar orang (termasuk aku), sangat sulit untuk memahami sintaks-sintaks bahasa pemrograman jadul macam Java, C, C++, C#, Julia, dan mudah sekali memahami bahasa pemrograman terbarukan macam Python dan Ruby. Tapi, walaupun beberapa bahasa pemrograman itu dianggap kuno dan jadul, mereka terus memperbaiki diri mereka, mengurangi bug, mempermudah sintaks, memperbanyak dokumentasi, memperluas komunitas. Sedangkan kehidupan kita? Mengapa kita tidak lebih baik daripada orang dulu? Bukannya orang dulu juga mengalami kegalauan? Dan tentunya sudah ada yang bisa mengatasinya kan? Nah, mengapa kita masih galau? Bukannya kalau memakai teori Neo Darwinisme, semua ini kan seleksi alam, jadi seharusnya data-data yang didapat oleh orang-orang zaman dahulu dalam memecahkan masalah, sudah terinstall di dalam pola pikir dan behavior kita.

Mengapa pula kita mempelajari semuanya dari awal? Belajar membaca dari mengeja, berhitung, menulis, hingga analisis-analisis rumit macam aljabar, logaritma, algoritma, semiotika, hermeneutika, filsafat, humaniora, dan berbagai macam keilmuan lainnya? Mengapa kita tidak langsung menggunakan sintaks import seperti di Python? Bukankah semuanya sudah ada librarynya? Bukankah semua pengetahuan itu sudah dipackage oleh kita versi lama? Versi 1.0? Bukannya sekarang kita sudah versi 2017.5? Mengapa kita masih saja belum bisa mengimport library-library yang sudah tersedia? Mengapa juga kita masih merasa bahwa kita lemah?

Mari kita renungkan…

Share "Bukankah Kehidupan Kita (hanyalah) Estafet dari Kehidupan Sebelumnya?"

Share on: FacebookTwitter

Kesibukan

Sibuk…

Ya, sibuk bukan berarti kita berhenti berusaha.

Share "Kesibukan"

Share on: FacebookTwitter

Apakah Kita Selama Ini Menjauhi Perkataan Tuhan Kita?

Hari ini mungkin hari yang biasa saja bagi kebanyakan orang. Tapi, menurutku hari ini adalah hari yang spesial. Kenapa? Tentu saja karena hari ini aku mendownload beberapa muratal Al Quran yang dibawakan oleh qari Muhammad Thaha Al Junaid. Ya, mungkin mulai hari ini aku akan terus mendengarkan muratal daripada mendengarkan musik. Bukankah muratal itu yang dibawakan adalah perkataan-perkataan Tuhan kita? Lantas, mengapa kita menghindarinya?

Share "Apakah Kita Selama Ini Menjauhi Perkataan Tuhan Kita?"

Share on: FacebookTwitter

Karena Emosi Hanya Ingin Diterima, Bukan Dituruti

Sore itu, ketika kami semua, mahasiswa psikologi, sedang lelah-lelahnya karena seharian full kuliah, dosen menyampaikan bahwa emosi itu diawali dari penerimaan, karena itu adalah awal dari terbentuknya rasa empati di dalam diri kita. Ketika ada anak kecil terjatuh, maka ekspresi yang pertama kali kita tunjukkan bukanlah membuat anak kecil itu tegar ataupun menyalahkan lantai yang membuatnya jatuh, melainkan kita terima dulu emosi dari anak kecil itu. Apakah anak kecil itu merasa kesakitan? Apakah anak kecil itu merasa kesakitan? Apakah anak kecil itu merasa lemah? Itu yang pertama kali kita tunjukkan, secara verbal dan nonverbal.

Share "Karena Emosi Hanya Ingin Diterima, Bukan Dituruti"

Share on: FacebookTwitter

Karena Kita Semua Membangun Suatu Sistem yang Kokoh

Apakah kamu masih suka mengeluh dengan rutinitas yang kamu lakukan setiap hari? Apakah kamu merasa bahwa kamu ini berada di dalam kekangan, berada di dalam tekanan, dan kamu merasa bahwa kamu adalah makhluk yang terikat? Ya, kamu merasa tidak seperti manusia yang selalu disebut-sebut sebagai makhluk yang bebas. Apakah kamu merasa bahwa kamu ini hanyalah robot, yang selalu hidup dengan pola-pola tertentu? Kalau kamu sedang atau pernah berpikir seperti itu, sebenarnya kamu tidak sendiri, karena sebagian besar manusia juga pernah berpikir seperti itu.

Ya, kita merasa bahwa kita diciptakan sia-sia dan akan dibinasakan.

Tentu saja kalau kita dekat dengan Allah, nggak mungkin deh kepikiran seperti itu. Bukankah Allah sendiri yang mengatakan bahwa tidak ada ciptaannya yang diciptakan sia-sia? Bukankah Allah sendiri juga mengatakan, “Apakah kalian mengira bahwa Aku menciptakan kalian hanya untuk bermain-main?” Merasa nggak, kalau Allah pernah mengatakan seperti itu? Oke, cek lagi ya, Qurannya, itu di ayat berapa…

Sekarang kita balik ke judul tulisan ini lagi ya… “Karena kita semua membangun suatu sistem yang kokoh”

Coba deh kita buka mata kita, kita buka pikiran kita, semua yang ada di dunia ini bergerak dan bekerja berdasarkan pola-pola tertentu. Misalnya saja manusia, bagaimana cara manusia merasakan sedih, marah, kecewa, takut, jijik, senang, semuanya itu ada polanya kan? Lalu, bagaimana pula cara manusia mengungkapkan sedih, marah, kecewa, takut, jijik, senang, sedih, tentu berbeda-beda pula kan? Semua emosi dasar manusia ini pun pada akhirnya dipelajari dan dikemas dalam suatu keilmuan tersendiri yang bernama psikologi; suatu cabang keilmuan yang banyak persamaannya dengan filsafat.

Suatu sistem yang kokoh…

Hidup ini adalah suatu sistem yang dibangun oleh orang-orang dahulu dan kita nikmati hari ini. Juga, kita pun kelak akan mewariskannya kepada generasi-generasi kita berikutnya. Manusia tentu akan mengalami kematian. Semua tau itu. Namun, tidak semua orang menyadari itu. Kalau kita bisa memahaminya, dan memahami pula bagaimana semua pola-pola di bumi ini bekerja, tentunya kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi, apa yang sedang terjadi, dan tentunya kita bisa mengubah prediksi kita supaya terjadinya sesuatu sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Tiga elemen dasar pada manusia: pikiran, jiwa, dan perilaku; apakah semua ini berkaitan erat dan saling berhubungan? Ketika kita mempelajari keilmuan psikologi, terutama psikologi kognitif dan biopsikologi, kita pun akhirnya menyadari bahwa ketiga hal itu semuanya ada di otak. Lantas, mengapa seseorang bisa malas melakukan sesuatu dan malas pula berpikir hanya karena jiwanya kosong, hampa? Ketika kita mengetahui ketiga komponen ini berada di otak, tidakkah kita bisa memanipulasinya? Ya, manusia ini diciptakan bersama dengan nafsu, yang satu paket pada penciptaan manusia. Itulah mengapa kita kadang lebih menuruti emosi negatif kita dibandingkan berpikir secara jernih. Padahal, bagian otak yang mengatur emosi hanya kecil ukurannya, dibandingkan dengan bagian otak yang digunakan dalam proses berpikir.

Share "Karena Kita Semua Membangun Suatu Sistem yang Kokoh"

Share on: FacebookTwitter

Senyap dan Cepat

Ada filosofi dari Kali Linux yang aku suka: The quiter you become, the more you able to hear. Jadi, di filosofi ini adalah, kamu nggak perlu jadi orang yang ramai, pamer sana-sini, padahal kamu nggak punya apa-apa yang bisa kamu banggakan. Maksudnya, buat apa sih pamer di mana-mana padahal tools yang kamu punya nggak lengkap. Coba deh kita lihat Kali Linux. Nah, dia tu kan toolsnya lengkap buat meretas situs, wireless, dan target lainnya. Tapi, apakah pengguna Kali Linux itu orang yang ramai? Harusnya sih nggak ya, kalau mengikuti filosofi ini. Malah, seharusnya pengguna Kali Linux selalu merasa kurang dengan sekian banyak tools yang dipunya. Akhirnya, dia terus menambah tools dan meningkatkan kemampuannya sehingga tercapailah apa yang diinginkan oleh sang pencipta Kali Linux:

The quiter you become, the more you able to hear.

Share "Senyap dan Cepat"

Share on: FacebookTwitter

Hello World!

Ini adalah tulisan pertama. Tes dulu lah :D

Share "Hello World!"

Share on: FacebookTwitter

Sample post

This is what a post on your blog looks like. This template is especially well suited for posting nice succint blurbs, much like Seth Godin does. Of course, it will also work well with longer posts, and you can change the number of posts per page in the _config.yml file. There’s no guarentee this blog will make you write as well as he does, but it will present your writings in a beautiful, clean, and distraction-free way. Try to write a little bit, every day.

Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Share "Sample post"

Share on: FacebookTwitter

blog built using the cayman-theme by Jason Long. LICENSE