Ruang-ruang Privasi

Beberapa hari terakhir ini, aku lagi asyik-asyik membaca buku-buku tulisannya Carl Gustav Jung, seorang psikolog yang menemukan aliran psikologi individualistik. Jung di dalam tulisannya menceritakan tentang masa kecilnya. Jung kecil adalah seorang yang introvert. Dengan sangat apik, Jung menceritakan bagaimana kehidupan seorang introvert sejak dia kecil hingga dewasa. Ada satu hal yang menarik untuk digali yaitu tentang ruang-ruang privasi.

Sebagaimana kita tau, ada persamaan antara ekstrovert dan introvert yaitu sama-sama membuat batasan. Kalau orang-orang yang introvert, maka dia akan membuat batasan yang akan membuatnya menutup diri dari lingkungan dan lebih asyik menggali dirinya sendiri. Sedangkan orang yang ekstrovert, dia akan membuat batasan antara dia dengan dirinya, sehingga akan lebih sering berinteraksi dengan lingkungan dan merasa muak jikalau berinteraksi dengan dirinya sendiri. Nah, batasan-batasan inilah yang membuat seorang ekstrovert dengan seorang introvert begitu berbeda.

Kalau berbicara mengenai ruang-ruang privasi, maka kita biasanya akan berbicara tentang orang-orang yang berkepribadian introvert. Orang yang berkepribadian introvert akan sangat banyak mengisi ruang-ruang privasinya dengan berbagai macam konsep, impian, harapan-harapan, kisah-kisah kehidupannya yang tidak diumbarkan kepada orang lain. Begitu macam warnanya dan tidak pernah dibukakan kepada orang lain karena sudah ada batasan-batasan mental yang diciptakannya.

Sedangkan bagi orang ekstrovert, apakah dia mempunyai ruang-ruang privasi? Tentu saja ada. Namun, seorang yang ekstrovert senantiasa menjauhi ruang privasi tersebut disebabkan oleh batasan mental yang telah dibuatnya sehingga dia akan lebih asyik dengan lingkungannya dan asing pada dirinya sendiri.



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp