Jeritan Sang Penulis

Di sebuah kamar yang sepi, di tengah gelapnya malam, sunyi, tanpa suara, sang penulis mencelupkan tinta penanya dengan hati-hati. Perlahan, sang penulis menorehkan kata-kata mutiaranya pada selembar kertas. Angin malam mengetuk-ngetuk jendela. Jangkrik-jangkrik bersahut-sahutan, menciptakan simfoni malam yang gemuruh nan syahdu.

Malam ini sang penulis tak dapat merangkai kata lebih banyak daripada biasanya. Setiap kali ingin menuliskan satu kata, berbagai emosi membanjiri dirinya. Begitu terus yang dirasakannya berulang-ulang. Betapa sulitnya menuangkan secercah emosi yang senantiasa berebutkan buat dituliskan.

Ada gembira, sedih, marah, kecewa, depresi, stres, trauma, euforia, berbagai emosi saling tumpang-tindih, saling berebut-rebutan demi mencapai ujung pena yang sempit dan rapuh.

/1/

Simfoni…

Demi jiwa hampa dan malam yang sunyi..

Dalam sendiri menikmati melodi..

Sepi…

Tangan sang penulis tertahan untuk merangkai bait kedua. Akankah diriku senantiasa dalam kesendirian ini? gumamnya.



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp