Semua Orang Berjuang

Dalam beberapa kali obrolan, aku terkadang bisa menemukan bahwa orang-orang yang aku ajak bicara adalah orang-orang yang memiliki pandangan yang jauh, pandangan yang melampaui lima tahun ke depan. Dan memang seharusnya seperti itu kalau orang dewasa. Pandangan-pandangan yang diutarakannya itu tidak hanya berbentuk cita-cita, seperti perkataan kita ketika masih di taman kanak-kanak, melainkan adalah sesuatu yang konkret dan bisa dilakukan.

Maka, ketika sesuatu yang akan dicapai itu konkret, pasti sudah tambah jelaslah langkah-langkah yang akan ditempuh.

Beberapa orang yang kujumpai adalah orang-orang yang serius. Walaupun di kesehariannya, mereka adalah orang yang gampang tertawa, seolah-olah tidak mau ribet memikirkan masa depan, namun, ketika kamu sudah bisa berbicara dengan mereka secara lebih mendalam, kamu akan menjumpai betapa detailnya rencana-rencana yang telah mereka bangun, step-step yang sudah sangat jelas. Sehingga terkadang ketika kita mendengarnya, kita merasa malu sendiri. Kita merasa bahwa kita ini seperti belum mempersiapkan apa-apa, kita seperti hanya bermain-main aja selama ini.

Di saat orang-orang telah membincangkan mengenai kehidupan akhirat, berupa amal ibadah, sedekah, tahajud, menjauhi riba, salat Subuh berjamaah, dan amal-amal lainnya untuk mempersiapkan diri mereka menghadapi perjumpaan dengan-Nya. Kita serasa seperti belum mempersiapkan apa-apa. Pun, ketika orang-orang yang kita ajak mengobrol berbicara tentang rencana-rencana duniawi mereka, seperti karir seperti apa yang akan dikejarnya, pekerjaan-pekerjaan seperti apa yang akan diusahakannya, menikah pada umur keberapa, studi-studi yang akan ditempuh, apakah akan membangun bisnis atau mengembangkan bisnis yang telah ada, semua itu dibicarakan, sehingga, kita terkadang merasa belum mempersiapkan apa-apa.

Lantas, sebenarnya apa yang telah kita persiapkan? Sudahkah kita mempersiapkan akhirat dan dunia kita?

Ketika dikatakan mempersiapkan, maka kita harus melakukan. Rencana-rencana ada/dibuat adalah untuk direncanakan, supaya target-target, keinginan-keinginan yang ingin kita capai bisa terwujud. Supaya, kita tidak bingung lagi ketika haru berhadapan dengan masa depan.

Apakah masa depan adalah hal yang mengerikan?

Tentu saja.

Bagi orang yang tidak melakukan langkah-langkah untuk mencapainya, maka pendakian menuju masa depan adalah semakin terjal dan semakin susah. Ketika orang tersebut telah sampai di puncaknya, maka dia akan melihat bahwa betapa curamnya, betapa mengerikannya jalan-jalan yang telah dilaluinya selama ini. Dia sejak awal memang sudah tau bahwa “hidup ini kejam, jadi biasakan.”



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp