Facebook BW WA Github Cari



Artikel Cerpen List Musik Pemrograman Puisi


Semua Berasal dari Otak Kita

01 November 2017

Entah kenapa kalau di perkuliahan psikologi, sepertinya hanya aku yang memiliki mindset yang berbeda. Rata-rata, mahasiswa psikologi biasanya berpikir bahwa segala hal berpusat pada afeksi dan emosi, namun aku berpikir bahwa segalanya berpusat pada otak. Kamu mau melakukan apa, itu semua dikendalikan di otak. Kamu mau membenci orang lain, menyayangi orang lain, semua itu berasal dari otak.

Lantas, ketika ada kekuatan lain yang menghalangi dari implementasi pemikiran kita, kekuatan apakah itu?

Entah ya, akupun masih bingung terkait kekuatan itu. Terkadang kan, kita membuat imagery, membuat bayangan di otak tentang apa yang akan kita lakukan berikutnya. Kita memikirkan bahwa kita akan mengerjakan tugas secara nonstop dari pagi hingga malam. Seharusnya kan, menurut yang aku pahami, tubuh kita mengikuti perintah dari otak kita. Tapi, entah mengapa, ada aja yang menghalangi kita dari melakukan perintah-perintah yang kita rapalkan di otak kita. Entah itu malas, galau, nggak niat gerak, nggak mau ngapa-ngapain, dan segala macam emosi yang intinya adalah menolak instruksi dari otak kita.

Apakah itu artinya emosi memainkan peranan yang besar pada diri kita?

Bisa jadi seperti itu. Namun, tentu saja menurutku, otak lah yang memiliki porsi paling besar untuk menentukan dan memutuskan. Apalagi, dalam usia kita, ketika saat kognitif formal, otak mencapai tingkatan tertingginya. Maka, seharusnya kita lebih “patuh” pada instruksi dari otak kita, bukan dari emosi kita. Kita bisa mengendalikan diri kita, apakah kita harus tersenyum, bahagia, sedih, kecewa. Semuanya bisa dikendalikan oleh otak kita.

Mungkin, kata-kataku di atas seperti utopia, atau mengerikan karena akan membuat manusia semakin mempertebal topengnya ataupun malah membuat seseorang semakin tidak mengenal dirinya. Nah, pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita mengenal siapa diri kita? Apakah aku mengenal siapa “aku”? Sedangkan, kita pun secara “tidak sadar” senantiasa dipengaruhi. Mulai dari nature hingga nurture. Mulai dari lingkungan hingga alam bawah sadar kolektif. Semuanya mempengaruhi kita sehingga kita tidak sadar siapa diri kita sebenarnya. Maka, ketika kita menginstruksikan otak kita untuk mengatur diri kita, bukanlah sebagai penebal topeng, namun itulah diri kita.

Hakikatku adalah yang aku pikirkan, bukan apa yang aku rasakan.

— Albert Einstein.

Sumber gambar: lh3.googleusercontent.com/-LfZwjp9lJEI/Wfk0V2aP7RI/AAAAAAAACnU/0W5FZxIHnDMTPzGcco6O-NsGvjM5nPzPgCLcBGAs/s900/imagination_attic_by_biancablaze.jpg

#artikel #kognitif #psikologi #edit

Tulisan Menarik Lainnya dalam Kategori Artikel

Baca Juga Ya


Copyright © 2018 Zen All Right Reserved - Created by Zen