Sebuah Ulasan Penulis Karya yang Namanya Tak Ingin Disebut

Bukannya tak ingin membuat suatu ulasan atau feature tentang pencipta karya bersama “anak sastra” yang dibangunnya melainkan karena aku ingin mengupas suatu karya yang nama penulisnya tak ingin disebut dan karyanya pun tak ingin disebut.

Bukan dia yang tak ingin, tapi aku yang tak ingin.

Karena bagiku, privasi adalah privasi. Sangat tidak elok untuk menyebarkannya. Apalagi karya-karyanya belum ada yang dipublikasikan. Beberapa karyanya saat ini ada aku pegang.

Moga aja tulisan ini bisa mencapai target tantangan ODOP pekan ini, yaitu 500 kata. Kalau sampai sini, baru seratus kata. Kurang 400 lagi. Hehehehe…

Jadi, seseorang yang akan aku kupas kepribadiannya adalah seseorang yang tertutup, setidaknya begitu aku memandangnya, entah aslinya seperti apa, karena toh setiap manusia memiliki sisi yang tak ingin dilihat oleh orang lain. Tulisan-tulisannya yang berupa beberapa novel yang masih berupa draft itu memiliki karakter tulisan yang kuat, tokoh-tokoh yang detail, latar kisah yang jelas, dan senantiasa menggunakan POV 3 atau sudut pandang orang ketiga. Berbagai jenis emosi dituangkannya dalam berbagai novel yang ia tuliskan. Ada emosi sedih, bahagia, kesal, murung, semua bercampur menjadi satu. Bahkan, bagi diriku yang lebih suka menonton anime dibandingkan membaca novel, sangat menikmati berbagai ungkapan-ungkapan, deskripsi-deskripsi, segala detail, yang dikisahkan dalam alur yang bergerak maju (dan sesekali mundur). Maka, ketika aku membacanya, serasa seperti menonton anime. Semua terlihat jelas, tidak seperti aku membaca novel lainnya. Moga aja novel-novel yang dibuatnya dapat tembus di pasaran karena aku dengar, sepertinya Gramedia membuka lowongan untuk naskah baru yang segar, entah apakah informasi tersebut valid.

Ketika membaca tulisan-tulisannya, aku merasa seperti memandang sebuah celah intipan. Aku seperti bisa mengintip kepribadian penulisnya. Itu sangat luar biasa bagiku, karena sehari-harinya, dia adalah seseorang yang tertutup, maka tak sanggup aku berkomunikasi dengan mudah kepadanya melainkan lewat sebuah intipan imajiner bernama “sastra”.

Aku tidak begitu mengerti masa lalu penulis tersebut, melainkan dari apa yang diceritakannya padaku. Tentu aku tak bisa menerima begitu saja informasi yang kudapat karena tentunya akan terjadi bias antara aku dan dia. Segala pengalaman yang dia ungkapkan tentang kehidupannya di masa kecil tentu saja berbeda dengan pengalamanku di waktu kecil dengan karakterku sebagai anak yang berorientasi pada prestasi, terlalu mendahulukan pemikiran daripada perasaan, tidak peka lingkungan, arogan. Pastinya berbeda dengannya yang sesekali kepribadiannya merembes dari karya-karya yang dituliskannya.

Sudah 500 kata? Sepertinya belum.

Aku tidak bisa menjelaskan tentang kepribadinnya, sosok seperti apa dirinya, dan berbagai hal tentangnya secara detail sebagaimana kawan-kawan ODOP lain yang mengerjakan tantangan serupa, karena seperti yang kukatakan di awal, masalah privasi. Aku tak ingin privasinya terbongkar. Toh, seorang penggiat sastra dilihat dari karya yang dilahirkannya, tak peduli bagaimana kepribadiannya entah terbuka, tertutup, hangat, dingin, melankolis, koleris, sanguinis, plegmatis, atau entah bagaimana ideologinya, nasionalis, kapitalis, sosialis, marxis, humanis, feminis. Setiap karya sastra tentunya dipengaruhi oleh sebagian besar ideologi maupun kepribadian yang dimilikinya. Namun, bukan itu yang dipandang, melainkan karya yang dihasilkannya.

Semoga dengan tulisan ulasan dengan nama yang tak mau disebut ini, novel-novelnya bisa terbit sehingga bisa kita nikmati bersama.



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp