Princess Ika

Tak susah menemukannya.

Di sebuah taman kerajaan yang berisi berbagai bunga terbaik dari seantero kerajaan tersusun secara rapi dan elok. Hijau-hijau daun berpadu apik dengan warna-warna merah mawar, putih melati, ungu anggrek, membentuk pola-pola indah yang takkan pernah bosan dipandang, seolah-olah, suasana dari taman itu adalah keceriaan, kebahagiaan, dan berbagai suasana “positif” lainnya. Tak ada kesedihan, kegundahan, kegalauan. Namun, suasana itu sangat kontras pada sang putri yang sedang duduk terdiam di bangku taman tersebut.

Sudah lebih dari sejam, putri tak beranjak dari tempatnya duduk. Pelayan-pelayan kerajaan yang bolak-balik melewatinya senantiasa menegur putri, cemas apabila putri kenapa-napa. Namun, tanggapan dari putri senantiasa datar seraya berkata, “Saya tidak kenapa-napa kok, Mbak,” sambil menampakkan senyum namun getir. Tentu saja hal itu membuat pelayan tersebut cemas. Ketika pelayan tersebut bertemu pelayan lainnya, dia menanyakan segala hal terkait sang putri. Apakah ada hal buruk yang menimpa putri? Apakah kondisi kesehatannya sedang menurun? Apakah putri sedang jatuh hati?

Namun, tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Semua menggeleng.

Seorang remaja kecil mengintip dari balik dinding taman. Ada apa dengan Kakak?

Remaja kecil itu bernama Ci. Seorang remaja yang baik hati, suka menolong orang lain, tapi nggak akan pernah bisa dekat dengan kakaknya, Putri Ika. Bukan karena dia nggak kangen sama kakaknya, bukan karena dia cuek sama kakaknya, bukan karena dia nggak peduli ataupun nggak mau ketemu sama kakaknya. Tapi, hirarki kerajaan yang melarangnya. Di kerajaan ini, hanya anak dari istri pertama sajalah yang bisa tinggal di kerajaan, sedangkan Ci adalah anak dari istri ketiga sang raja. Makanya, dia masuk ke taman itu secara diam-diam supaya nggak ketahuan sama penjaga kerajaan. Ci sangat khawatir dengan keadaan kakaknya yang akhir-akhir ini senantiasa murung di taman tiap pagi hingga sore hari. Ingin sekali Ci membantunya. Tapi sayang, kalau ketahuan sama penjaga bahwa Ci masuk wilayah kerajaan, bisa habis dia diamuk sama penjaga. Makanya, sesekali Ci menyipitkan mata ke kanan dan ke kiri, berharap moga-moga nggak ada penjaga yang menemukannya.

Yes, nggak ada penjaga. Perlahan, Ci mendekati kakaknya. Selangkah demi selangkah. Perlahan-lahan. Dikit lagi… “Woi, ngapain kamu di sini?”

Gagal!

Dengan laju secepat-cepatnya, Ci meninggalkan lapangan kerajaan.

Sementara itu, Putri Ika masih saja termenung dalam kesunyian di tengah-tengah taman kerajaan yang eksotis. Burung-burung merpati mendekatinya setelah asyik berputar-putar di angkasa. Tupai melompat-lompat mendekati merpati-merpati yang baru saja tiba. Mengganggu. Merpati yang terusik, segera mematuk tupai nakal itu. Pemandangan lucu. Tapi tidak bagi putri, dia masih saja terdiam di bangkunya. Perlahan, air mata menetes.

“Sayang, kok masih di sini aja? Ayo ke dalam…” Ratu membimbing Putri Ika memasuki istana. Putri Ika menurut.

Di kamarnya, Ci nggak bisa beristirahat dengan tenang. Dia masih saja risau dengan keadaan kakaknya yang senantiasa bersedih akhir-akhir ini. Nggak bisa dibilang sebentar sih, karena sudah sekitar 30 hari atau sebulan, Putri Ika senantiasa mengurung jiwanya dalam kesepian dan kesedihan di taman istana. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Ci mencoba mengingat kembali berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Sepertinya tidak ada sesuatu yang luar biasa hingga mengubah kondisi jiwa Putri. Lalu apa? Apa yang menyebabkan Putri senantiasa dirundung kesedihan?

Ah, tidak bisa aku tidur malam ini.

Ci beranjak dari kasurnya mendekati purnama. Di jendela tempatnya merenung, dipandanginya bulan yang nampak lebih kecil di saat tengah malam ini, bila dibandingkan dengan tadi sekitar jam 8 malam. Tak bisa tenang Ci dengan pikirannya. Berkecamuk. Mengapa, mengapa, dan mengapa. Hanya itu yang senantiasa menggerogoti mimpi-mimpi indahnya malam ini. Apakah karena diriku, Putri tak bisa bahagia? Apakah karena kehadiranku? Apa yang harus aku lakukan?

“Kunang-kunang malam, apakah kamu tau apa yang dirasakan kakak?”

Bodoh sekali dia merasa, bertanya dengan kunang-kunang? Bertanya pada pelayan saja, dia tak bisa mendapatkan jawabannya. Apalagi bertanya pada serangga kecil yang tak tau bagaimana cara berbahasa! Sebegitu kacaunya kah pikiran Ci?

Dalam keheningan malam, Ci memikirkan keadaan kakaknya. Ci terlalu bingung harus berbuat apa. Dirinya sangat bimbang. Andai saja dirinya bisa membaca pikiran seseorang, tentu takkan sesusah ini bagi dirinya memahami kakaknya. Mengapa hal ini senantiasa terjadi dan berulang?

Ci letih. Terlelap.

Pagi tiba. Penduduk desa terbangun dari malamnya. Matahari menyinari, semua perasaan cinta. Tapi mengapa hanya Ci yang merasa tak semangat menghadapi pagi ini. Dia tau bahwa hari-hari kemarin akan terulang. Terus terulang. Senantiasa terulang. Ci merintih, menahan tangis. Mengapa hal ini senantiasa terjadi? Mengapa! Apakah tak ada yang bisa kuperbuat supaya bisa mengembalikan kakakku seperti dulu, saat aku belum mengenalnya?

Tok. Tok. Tok. “Pangeran Ci, ayo sarapan dulu…”

Pangeran?

Ci keluar dari kamarnya. Sekilas, sebelum melangkahkan kaki keluar dari kamarnya, dipandanginya sekali lagi kamarnya. Hmmm…. memang berbeda. Entah mengapa yang ini lebih rapi dan wangi. Siapa yang melakukannya? Nggak mungkin diriku.

Ci berjalan menuju meja makan bersama pelayan.

Setelah sarapan, Ci langsung menuju ke istananya Putri Ika. Tempatnya masih sama. Nggak ada yang berubah. Apa yang sebenarnya terjadi ya? Sejak kapan aku jadi pangeran?

Ci bertemu Putri Ika di gerbang. “Selamat pagi, Pangeran Ci..,” sapanya dengan senyuman hangat di wajahnya. Sejak kapan suasana hatinya berubah drastis? “Kak Ika,” ucap Ci, “sudah baikan ya?”

“Kak?” Putri Ika heran.

“Kak Ika, kok heran, aku adekmu kan?”

“Aku nggak pernah punya adek,” jawabnya dengan nada kebingungan.

Jleb. Jadi, selama ini aku nggak dianggap sebagai adeknya. Kenapa?

“Ngomong-ngomong, ada apa ya, Pangeran Ci, datang kemari? Tumben banget loh, didatangi sama kerajaan sebelah.”

“Oh, tadi aku cuma jalan-jalan aja kok,” jawab Ci sekenanya.

“Oh gitu ya… Suasananya indah ya?” ucap Putri Ika dengan senyum.

“Iya. Hehehehehe….” Ada apa dengan Kak Ika, ya? Ini juga dari tadi banyak penjaga, nggak diusir juga aku. Aneh. Sesuatu pasti terjadi. Pasti ada yang mengubah dunia ini semalam. Aku yakin itu.

Ci berjalan bersama Putri Ika di pagi hari menikmati udara segar dan suara-suara burung bersahut-sahutan.

Malam sebelumnya…

Sebuah mantra sihir telah terbuka. Kehidupan berubah. Putri Ika tersenyum di tengah istananya. Merapalkan mantra yang mengubah kehidupan mereka. Selamanya.

Mantra selesai. Putri Ika lupa segalanya. Seluruh penduduk lupa akan kehidupan “seharusnya”. Mantra berjalan.

Hanya Ci yang tidak terkena.



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp