Apakah Karakter dan Watak Seseorang Hanya Ada di Anime dan Novel?

Kalau di sebuah cerita, entah itu anime kah novel, pasti ada yang namanya perwatakan atau karakter sebuah tokoh. Ada tokoh-tokoh yang kejam. Ada yang baik. Ada yang suka membunuh orang. Ada tokoh yang suka mendebat orang lain. Ada tokoh yang senantiasa peduli. Ada tokoh yang sangat peka. Ada tokoh yang suka menghujat orang lain.

Tapi itu semua hanya fiksi. Ada kah contohnya di kehidupan nyata?

Kita mengenal beberapa kepribadian manusia. Kalau menurut enneagram, sebuah pengelompokan tes kepribadian manusia zaman dulu, tipe kepribadian manusia dikelompokkan menjadi sembilan, yaitu: reformer, helper, achiever, individualist, investigator, loyalist, enthushiast, challenger, dan peacemaker. Kalau kamu mau mengetahui tipe kepribadian apa kamu menurut enneagram, kamu bisa mencobanya di muhammadzaini.com/enneagram.

Kemudian kita mengenal juga tipe kepribadian yang empat, yang populer di buku-buku psikologi buatannya Pak Daudantonius, yaitu: melankolis, plegmatis, koleris, dan sanguinis. Kalau menurut Jung, yang kemudian disempurnakan oleh Myers Birggs, kita mengenal kepribadian ekstrovert-introvert, sensing-intuition, thinking-feeling, dan judging-perceiving.

Seperti yang kita tau bahwa orang yang extrovert berarti orang yang terbuka, introvert berarti orang yang tertutup, sensing berarti dia bertindak berdasarkan apa yang dia lihat di hadapannya, intuition berarti dia bertindak dengan mengacu pada apa yang terjadi ke depannya nanti, thinking berarti orang itu mendahulukan logika dibanding perasaan, feeling berarti sebaliknya, sedangkan dimensi judging dan perceiving adalah dua dimensi yang ditambahkan oleh Myers dan Birggs secara eksplisit padahal sebelumnya sudah diutarakan oleh Jung secara implisit dalam tulisannya tentang kepribadian manusia.

Nah, setelah kita mengenal, mengetahui, dan memahami semua kepribadian manusia tersebut, apakah kita yakin bahwa manusia benar-benar bisa memegang teguh karakternya? Apakah yang introvert berarti dia menjauhi dunia sosial dan terus-merenus seperti itu? Apakah yang namanya achiever berarti dia senantiasa mengedepankan prestasi dibandingkan kehangatan persahabatan? Apakah yang namanya melankolis senantiasa tergugah hatinya ketika mendapatkan sesuatu yang biasa dalam pandangan orang lain?

Kalau menurut pandanganku, kita tidak hanya dikendalikan oleh kepribadian kita maupun watak, melainkan oleh lingkungan. Ingatlah bahwa ada yang namanya konformitas, teori belajar sosial, dan berbagai kajian psikologi lain yang memandang tingkah laku manusia disebabkan oleh (atau dideterminasi oleh) lingkungan sosialnya. Dan ternyata memang seperti itulah kejadiannya. Dalam bersosial, kita senantiasa memandang satu sama lain sebagai individu yang sama; tingkah laku sama, pola pikir sama, bergerak secara bersama, dikagetkan oleh sesuatu yang sama, dibahagiakan oleh sesuatu yang sama. Mengapa bisa terjadi? Apakah kepribadian manusia masing-masing individu “lenyap” ketika di lingkungan sosial? Apakah kepribadian akan nampak hanya di ruangan konseling dan psikoterapi?

Coba sekarang kita mengaca lagi pada novel dan anime. Coba deh kita bayangkan kembali novel-novel yang kita baca atau anime-anime yang kita tonton. Mengapa karakteristik mereka berbeda satu sama lain? Coba bayangkan kalau teori konformitas berlaku di situ. Maka, perbedaan-perbedaan karakteristik penokohan mungkin tak begitu nampak dan cerita terasa hambar.



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp