Jualan: Belajar Menghadapi Konflik

Pernah beberapa kali aku menghadapi pihak birokrat kampus dan memang sering sih mengalami yang namanya konflik. Aku biasanya menemani beberapa orang teman kalau ke birokrat kampus. Ketika konflik itu terjadi, beberapa orang yang aku temani merasa tidak kuat dengan berbagai ujaran dan ocehan menyerang ketika konflik itu terjadi. Lalu, mengapa aku bisa menghadapi konflik tersebut dengan lebih santai?

Tentunya karena sudah terbiasa menghadapinya ketika berjualan.

Meskipun barang dagangan yang dijual itu simpel, yaitu sepeda, konflik terkadang dan seringnya terjadi. Tentunya konflik yang berkaitan tawar-menawar. Misalnya aku maunya sepeda ini terjual dengan harga 600 ribu dikarenakan modalnya yang sudah mencapai 580 ribu. Kan ambil untungnya sedikit aja tuh, cuma 20 ribu. Dia sebagai pembeli tentunya senantiasa merasa bahwa harga yang ditawarkan terbilang mahal sehingga menawar dengan harga 500 ribu.

Salahkah?

Ya tentu saja tidak. Sebagai pembeli, dia memiliki hak untuk menawar, suatu hak yang sudah tidak ada lagi di pasar modern. Ketika pembeli menawar dengan harga di bawah modal, atau membuatku mendapatkan untung yang sangat sedikit, tentu saja aku harus menjalankan beberapa trik supaya pembeli tersebut mau menerima harga yang aku ajukan.

Sayangnya aku tidak menguasai trik tersebut.

Yang menguasai triknya tentu saja hanya orangtua. Aku yang istilahnya masih junior di bidang jual-beli tentu saja harus bisa kokoh mempertahankan harga yang sangat murah ini, jangan sampai ditawarnya di bawah modal. Maka, terjadi konflik yang lebih besar dibandingkan kalau aku menggunakan beberapa trik untuk merayu pembeli. Untungnya lagi kalau pembelinya orang Bugis. Kalau dia marah-marah pakai bahasa Bugis, aku cuma senyum-senyum aja. Nggak ngerti bahasanya juga. Kalau pembelinya orang Banjar atau Jawa, ngerti sih bahasanya, tinggal gimana caranya aja terjadi kesepakatan suka sama suka ketika tawar-menawar berlangsung.

Pernah juga beberapa kali tidak terjadi konflik disebabkan oleh pembeli yang nerima aja harga yang aku tawarkan. Insya Allah murah sudah, karena memang aku kalau jualan sepeda nggak pernah mahal. Apalagi kalau dibandingkan sekota Samarinda. Sudah survey bos. Selain itu, penyebab lainnya adalah karena pembeli sudah melihat sepedanya di toko daring yang aku pasang seperti di OLX, Facebook, dan Instagram. Biasanya kan kalau sudah cocok sama harganya, ntar dia nelpon terus datang ke toko.



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp