Degradasi Kualitas Manusia Modern (?)

Tulisan ini aku buat sebagai bentuk kegelisahan terhadap fenomena modernitas yang melingkupi segala sisi. Sebenarnya karena target menulis setiap hari cukup satu buah saja sehingga aku tidak perlu menulis lagi untuk hari ini. Namun, apabila tidak dituliskan hari ini, takutnya besok lupa. Nah, semoga saja di tulisan ini dapat menampung berbagai kegelisahan yang baru saja aku pikirkan.

Apabila kita pikirkan kembali, kita cermati kembali, akan ada banyak perubahan yang dialami oleh manusia modern abad ini. Ketika aku katakan manusia modern, maka yang aku maksud adalah manusia-manusia di mana gawai merajalela. Setiap manusia menggunakan gawai, entah itu dari balita hingga orang dewasa. Maka, tidak cocok rasanya ketika aku katakan sebagai “anak modern” karena konteksnya sudah mengglobal, setiap manusia menggunakannya.

Apa saja perbedaan yang dialami oleh manusia modern ini?

  1. Manusia modern sangat gampang memperoleh informasi sehingga cepat pula merespons informasi tersebut. Bahkan, setelah merespons informasi tersebut, manusia modern ini seketika lupa tentang apa yang dia komentari atau apa topik yang sedang dibahas. Karena setiap konten yang disuguhkan saat ini kebanyakan adalah informasi-informasi yang memainkan emosi pembacanya. Kurasa, setiap media yang menyebarkan informasi tersebut memahami konsep AIDA dalam pemasaran sehingga mampu membuat siapapun yang hanya melihat selama dua detik, langsung mengunjungi tautan artikel tersebut. Attention, Interest, Desire, and Action. Banjirnya berbagai informasi pada gawai masing-masing manusia modern tak ayal membuat mereka dengan cepatnya beralih-alih fokus sehingga pada akibatnya, satu informasi belum dapat dicerna secara penuh, datang lagi informasi-informasi yang lain. Kedangkalan-kedangkalan ini bukannya akan menjadi samudra informasi yang melimpah melainkan akan menjadi kebingungan dalam derasnya banjir informasi setiap detiknya.
  2. Berikutnya, fokus akan mulai berkurang. Manusia modern akan susah membaca tulisan-tulisan panjang dalam buku-buku tebal ataupun dalam poin pertama di atas. Sengaja aku buat panjang supaya kita bisa mengukur apakah diri kita ini sudah mengalami suatu sindrom yang dialami oleh manusia modern: tidak bisa membaca teks panjang. Hal ini disebabkan oleh informasi-informasi singkat yang manusia modern dapatkan dari gawainya sehari-hari (lagi-lagi, beroleh dari gawainya). Kesulitan memfokuskan diri pada tulisan-tulisan panjang, secara kognitif, akan mengakibatkan manusia modern sulit fokus pula pada pekerjaan-pekerjaan maupun tugas-tugas yang mengharuskan pelakunya berada dalam fokus yang lama.
  3. Manusia modern mampu membuat pencitraan-pencitraan dirinya secara apik di berbagai media sosial. Entah itu di Instagram, Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya. Sayangnya, pencitraan-pencitraan ini sering kali lepas dari kenyataan yang dialaminya. Di dalam konten-konten yang diciptakan oleh manusia-manusia modern, ditampilkan bahwa mereka sedang bahagia, menikmati indahnya alam, kesejukan aroma pagi hari, lembutnya suasana setelah hujan. Namun, itu hanya kata-kata dusta yang tak ada realitanya di saat manusia modern mengetiknya di gawai mereka. Foto-foto framing, video-video pencitraan, semua itu adalah “bahasa-bahasa” kepalsuan yang diciptakan oleh mereka saat ini.
  4. Kualitas kerja menurun. Intensitas manusia modern dalam berinteraksi dan berkomunikasi pada benda mati bernama gawai tentu saja akan mengakibatkan kecemburuan pada pekerjaan yang terbengkalai. Hingga akhirnya, pekerjaan akan tidak maksimal, performa menurun, kualitas pekerjaan berkurang, yang paling parah adalah emosi manusia-manusia modern sangat dipengaruhi oleh kata-kata yang diterimanya dari media sosial. Ungkapan kebencian, permusuhan, sekedar olok-olok, permainan kata-kata, sangat mempengaruhi kualitas kehidupan mereka sehari-hari. Mungkin sangat tidak relevan ketika Maslow mengatakan bahwa kebutuhan manusia adalah fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, hingga aktualisasi diri, atau salah satu tokoh psikologis pula yang mengatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kebahagiaan adalah ini dan itu. Ada yang kurang dari berbagai statement yang mereka nyatakan, yaitu gawai. Manusia modern sangat terpengaruh pada gawai, entah itu menyebabkan mereka bahagia, sedih, cemas, frustasi, rindu, galau. Apalah arti gawai? Dia hanyalah benda mati yang terdiri dari kaca dan plastik. Mengapa sebegitu besarnya efeknya sehingga mempengaruhi kondisi psikologis seseorang?

Dengan gawai, manusia dibentuk. Bukan manusia yang membentuk gawai.

— Konspirasi New Age Movement.



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp