Kaori...

Eh, ini bukan hari Rabu kan ya? Kalau hari Rabu kan, jadinya malah bertema Waifu Wednesday, macam blog sebelah yang khusus membahas tentang jejepangan. Blog favoritku juga sih. Hehehehe…

Jadi, di sini aku akan menceritakan tentang anime Shigatsu wa Kimi no Uso atau kalau dalam bahasa Inggris menjadi Your Lie in April. Di anime ini dikisahkan ada seorang anak SMP bernama Kousei Arima yang dahulu terkenal sebagai pemain piano berbakat, terkenal di antara semua orang yang pernah melihat permainannya, sehingga ada pula orang-orang yang membencinya dan memberikan julukan-julukan buruk seperti boneka ibunya dan manusia metronome.

Tapi bukan di situ siksaan yang dialami oleh Arima.

Memang sih, Arima mengalami berbagai tekanan yang sangat berat ketika dia latihan piano. Latihan disiplin dari ibunya ini mengantarkannya pada posisi tertinggi dalam berbagai concour yang dia ikuti. Setiap nada yang dihasilkan olehnya, selalu sesuai dengan partitur, tidak ada meleset sedikitpun. Namun, ketenarannya ini pun akhirnya pudar ketika ibunya tiada. Di saat itulah, Arima tersiksa, batinnya menjerit, hingga akhirnya dia tidak dapat mendengar nada piano yang dihasilkan oleh kedua tangannya.

Namun, semua penderitaan itu mulai memudar di saat dia bertemu seorang gadis cantik berambut kuning bernama Miyazono Kaori, di bulan April, saat bunga-bunga sakura bermekaran. Berbagai pengalaman pun hadir dengan penuh warna sejak saat itu. Kaori senantiasa mendorongnya supaya bermain piano lagi. Hingga akhirnya, Arima pun mengikuti (dan selalu mengikuti) dorongan-dorongan yang diberikan oleh Kaori sampai mereka berdua berdiri di atas panggung yang sama, dalam concour biola, Arima bertugas sebagai pendamping.

Hanya pada kesempatan itulah mereka bersama.

Kaori ambruk.

Mulai saat itulah akhirnya Arima menyadari bahwa Kaori memiliki penyakit yang tak pernah ditampakkannya di hadapan mereka. Kaori senantiasa menunjukkan wajah ceria dan ganas ketika melihat kelembekan Arima. Dia senantiasa mendorong Arima supaya bersungguh-sungguh berperan sebagai pianis.

Penyakit yang menghancurkan tubuh Kaori semakin kuat hingga akhirnya dia hanya bisa di rumah sakit.

Di momen-momen itulah, Arima kembali mengenang kenangan buruknya bersama ibunya. Arima ingin bermain piano supaya ibunya sembuh, supaya ibunya bisa kembali bersamanya. Arima jahat kepada ibunya di akhir kehidupan ibunya, sehingga Arima berpikir bahwa ketidakmampuannya dalam mendengarkan nada permainannya sendiri adalah kutukan baginya karena menghilangkan nyawa ibunya.

Maafkan aku karena membuatmu mengingat masa lalumu. - Miyazono Kaori

Di episode 21 dan 22, yaitu episode-episode akhir adalah bagian yang sangat emosional. Kaori berjuang dengan sangat keras melawan penyakitnya hingga akhirnya dia memutuskan untuk operasi.

Di saat yang lain, Arima berjuang dengan concour pianonya namun menghadapi kenangan-kenangan yang tak ingin kembali diingatnya setelah melihat Kaori kejang-kejang di atas ranjangnya. Dia tak ingin masa lalun ibunya juga terjadi pada Kaori. Arima terus saja mendikte otaknya bahwa itu adalah kutukan.

Dan dia tak ingin bermain piano lagi.

Seto terus saja menyadarkan Arima bahwa masa depannya adalah pada piano. Namun, Arima terus saja dalam keterpurukannya, hingga akhirnya, Kaori sendirilah yang memberikan semangat dan cahaya pada Arima.

Arima menerima cahaya itu, namun cahaya itu meredup pada diri Kaori.

Dia telah tiada.

Sedih banget memang lihat bagian ini. Rasanya seperti nggak adil kalau orang sebaik, setegar, dan sesemangat Kaori harus tiada terlebih dahulu. Orang yang memberikan harapan kembali pada Arima ternyata hidupnya hanya dari April ke bulan April. Di akhir kehidupannya itu, Kaori sempat menuliskan kebohongan-kebohongannya pada surat yang dibaca oleh Arima.

Oh iya, kalau yang udah nonton animenya, terus ada pertanyaan atau diskusi, langsung aja ya, di kolom komentar di bawah. Soalnya aku nulisnya mungkin dirasa kurang lengkap atau kurang memuaskan gitu kan ya.



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp