Jeritan di Balik Topeng

Manusia selalu hidup dari topeng satu, ke topeng lain.

Entah mengapa manusia tak bisa dipercaya.

Mereka berbohong.

Mereka berdusta.

Berbagai ungkapan senantiasa diungkapkan oleh spesies kita, manusia, untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, penghargaan, pengakuan akan adanya kita, perhatian dari orang lain, pembenaran atas dongeng-dongeng kita. Semua cara kita lakukan untuk memoles berbagai kisah yang kita utarakan.

Apakah salah?

Entah dari segi mana kita akan melihatnya. Apakah salah ketika kita memoles kata-kata kita? Apakah salah ketika kita memoles penampilan kita? Apakah salah ketika kita memoles sikap kita? Toh, manusia tentunya punya batas-batas privasi yang senantiasa kita bentuk sejak kita lahir ke dunia ini. Kita senantiasa berusaha menutup rahasia-rahasia kita. Kita senantiasa memberi jarak pada orang lain….

… sedekat apapun orang itu pada kita.

Manusia senantiasa memiliki rahasia.

Namun, ada kalanya juga kita merasa bahwa ada berbagai privasi yang ingin kita munculkan ke publik. Ada hal-hal yang ingin kita ceritakan pada orang lain. Kepribadian kita menjerit. Personality kita berteriak. Akankah diri ini membongkar rahasia yang sekian lama mengendap dalam alam bawah sadar kita? Akankah “kita” yang sebenarnya akan menunjukkan pada semesta tentang siapa “kita” yang sebenarnya?

Sang Aku, sang Aku adalah sesuatu yang misterius secara mendalam. - Ludwig Wittgenstein, Notebooks.

Topeng-topeng yang menjerit.

Ada berjuta kisah, harapan, perjuangan, air mata, peluh, dan berbagai fenomena yang telah lama terendap dalam alam bawah sadar kita. Lalu, bermanifestasi dalam bentuk mimpi, kemudian gejolak psikologis yang tak terkendalikan, lalu hancurnya kepribadian kita menjadi berkeping-keping.

Diriku yang satunya belum dapat melihat cahaya - Split, 2017.

Manusia adalah makhluk yang unik. Bukan makhluk yang hanya bergerak berdasarkan logikanya, tapi juga harapan dan impian. Manusia senantiasa bergerak menurut fitrahnya, menurut pola-pola yang dikatakan sebagai keunikan antara satu sama lain. Cukup paradoks memang. Ketika kita mengatakan demikian, manusia berpola, mengapa kita memandang antara satu sama lain sebagai kepribadian yang berbeda. Akan tetapi, ketika kita mengatakan bahwa manusia senantiasa berbeda, ternyata, antara satu sama lain memiliki pola yang mudah terbaca.

Asal kita peka.



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp