Keunikan Bahasa Bubuhan Samarinda

Setiap daerah pastinya memiliki keunikannya masing-masing. Entah itu dari segi tarian, nyanyian, senjata, rumah adat, dan bahasa. Nah, ternyata di Samarinda sendiri bahasanya unik loh, kalau dibandingkan dengan daerah lain. Kok bisa aku tau? Jadi kan ceritanya aku SMA di Jawa. Pas di sana pakai bahasa orang Samarinda, baru dah kelihatannya kalau memang bahasanya berbeda. Soalnya mereka nggak paham sih apa yang aku katakan. Kadang juga tertawa. Aku kiranya kan bahasa yang sehari-hari kupakai ini bahasa Indonesia. Nah, terus anehnya di mana coba? Nah, berikut ini adalah bahasa bubuhan Samarinda yang ternyata unik: (bubuhan: orang-orang)

1. Kah

Kalau di Jawa, nggak biasa memakai partikel -kah di akhir kalimat untuk membuat pertanyaan.

Orang Jawa yang di Jawa ya, maksudku, bukan orang Jawa yang di Samarinda.

Kalau di Samarinda, aku kalau nanya tuh kayak gini, “Sudah makan, kah?” “Udah mandi, kah?” “Ikam dah ngerjakan tugas dosen, kah?”

Biasa aja lok? Anehnya nggak ada kan? Jadi, partikel -kah digunakan untuk membuat kalimat pernyataan menjadi kalimat pertanyaan. Tapi, kalau di Jawa kok malah diketawain ya? Namanya juga nggak biasa kalau di sana. Di Jawa kan, kalau mau mengubah kalimat pernyataan menjadi kalimat pertanyaan, kayaknya nggak ada tambahan partikel deh, langsung aja kayaknya, macam, “Wes madhang?”

2. Lok

Partikel -lok fungsinya untuk mempertegas pernyataan. Istilahnya, macam klarifikasi lah. Contoh konversi bahasa Jawa menjadi bahasa Samarinda adalah:

Jawa: “Kowe wes madhang, to?”

Samarinda: “Ikam dah makan, lok?”

Dari segi makna sih sama aja. Cuma memang berbeda dalam hal penggunaan partikelnya. Kalau di Jawa menggunakan -to, di Samarinda menggunakan -lok.

3. Angsul

Angsul itu artinya duit kembalian. Kalau di Jawa, sebutannya jujul. Nah, waktu itu kan pas aku lagi beli suatu barang di suatu tempat di Jawa, terus aku bilang tuh, “Bu, angsulnya berapa kira-kira?” Langsung aja deh, yang penjualnya bingung. “Angsul?” Lantas, aku mulai ngerasa nih, ‘Wah, kayaknya bukan bahasa Jawa nih. Pakai bahasa Indonesia aja sudah.’ “Kembaliannya, Bu, maksud saya.”

Kenapa aku mengiranya angsul adalah bahasa Jawa?

Tentu saja karena aku dilahirkan di keluarga orang Jawa. Makanya, aku mengira, berbagai kosakata yang diungkapkan di rumah itu adalah bahasa Jawa semua. Eh, ternyata nggak. Memang bahasanya orang Samarinda.

4. Pendeng

Siang itu, habis Zuhur, aku keluar dari masjid menuju ke pasar. Waktu itu di Tawangmangu. Pasarnya kan di lantai dua tuh kalau mau beli pendeng. Lantai satunya kalau nggak salah jualan bunga-bunga. Udah agak lupa juga eh, lama nggak ke Jawa.

Di salah satu kios, aku bertanya ke ibu yang ada di situ, “Bu, enten pendeng?”

Ibunya menampakkan ekspresi bingung.

‘Weh, apa lah sinonimnya pendeng?’ batinku.

“Maksud kulo, enten sabuk kah, Bu?” (masih pakai -kah. Hahahahaha…)

“Oh, ini, ada.”

5. Sanggar

Pas siang-siang nih, aku laper kisahnya. Ke teman, aku bilang, “Wah, lapar nih, bro, beli sanggar yok!”

Lantas, itu teman-teman pada bingung. “Sanggar? Sanggar tari kah maksudmu, Zen? Bisa dimakan apa?”

“Bukan. Bukan. Maksudku tuh, pisang goreng. Kalau di Kalimantan, aku nyebutnya sanggar, pisang goreng.”

“Sanggor?”

“Sanggar, ndes! Ikam ni kadak paham-paham!” (maaf ya, kalau pakai bahasa Samarinda aku buat dialognya. Hehehehe. Lebih nyaman sih)

“Yo wes lah. Ayo dah beli sanggar.”

Yah, jadi itu lah beberapa bahasa Indonesia khasnya bubuhan Samarinda yang kalau dikatakan ke orang Jawa, kadang membuat bingung, kadang juga jadi lucu. Yah, namanya juga beda budaya, pasti beda juga lok, bahasa dan tradisi?

Salam persatuan!



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp