Neko: So Sweety...

Hangat.

Hanya kata itu yang dapat terucap ketika diriku memandangi betapa indahnya bunga-bunga sakura bermekaran dari luar jendela. Pohon-pohon coklat yang sekian lamanya kesepian tanpa seorang kawan, kini ditemani oleh sakura-sakura yang elok nan polos. Senyuman yang merekah dari sakura-sakura itu mengingatkanku pada hari-hari indah yang kujalani di Indonesia. Ya, Indonesia, negeri sejuta pulau yang menyimpan berjuta kenangan eksotis takkan mungkin pudar dari memori terdalamku, tapi setidaknya aku bisa tegar untuk dapat terus memperjuangkan kehidupanku hingga terbang ke negeri sakura pun aku jalani.

Satu, dua, kelopak mulai menonjolkan sakura merah muda yang cantik.

Ternyata memang benar apa kata orang: Ketika kamu ingin melihat betapa indahnya sakura bermekaran, lihatlah pada hari pertama. Ya, itu benar, bisa kusaksikan pada saat ini. Sekian lama kuterdiam di hadapan jendela bersama Neko, kucing kesayanganku, hanya ingin melihat peristiwa indah yang hanya terjadi sebentar saja tiap tahunnya.

“Neko, andai kau bisa berkata, mungkin kamu akan mengatakan tentang betapa indahnya sakura pagi ini,” kataku pada kucing kesayanganku sambil mengelus-ngelus bulu-bulunya yang lembut.

“Miauw…” Hanya itu jawabannya.

Yah, namanya juga kucing. Wajar sih kalau jawabannya hanya sebuah ungkapan yang aku tak mengerti maksudnya. Mungkin hanya bangsa kucing dan Nabi Sulaliman saja lah yang dapat mengerta apa yang dikatakan Neko. Kalau aku sih, nyerah.

Tok. Tok. Tok.

“Masuk aja, Rene.”

“Assalamualaikum. Tumben, Dewi, pagi-pagi gini sudah memandangi jendela. Lagi nunggu siapa nih?”

“Waalaikumussalam. Rene nih, bisa aja. Nunggu siapa? Nggak ada,” Pipiku memerah, “Itu loh, lihat deh sakura-sakura yang bermekaran itu. Bagus banget kan?” Kucoba mengalihkan topik.

“Iya deh, iya, bagus. Tampan lagi. Kayak pangeran yang lagi kamu tunggu kan ya?” ucapnya lagi dengan nada menyindir.

“Hei… sarapan yok.” Asli, nggak bisa aku menyembunyikan rona pipiku yang memerah mendengar ucapannya itu. Siapa juga yang bisa menyembunyikan rasa suka pada seseorang? Nggak ada yang bisa. Daripada Rene terus-terusan mengatakan sesuatu yang membuatku tersipu, mendingan langsung tak alihkan aja deh.

“Oke dah. Ayo.”

“Miauw…”

“Eh, Neko,” tanggap Rene, “Ohaiyou gozaimasu. Selamat pagi.”

“Miauw…”

Ampun deh Rene ini, ngomong sama kucing. Mana dia tau bahasa kita.

“Salah kah aku bicara sama kucing?”

Aku kaget.

Segar sekali mata melihat pemandangan putihnya nasi, kuningnya tamagoyaki alias omelet yang digulung dan berbentuk seperti potongan brownies Amanda, dan warna-warni tsukemono atau acar yang pasti ada di sarapan kita sehari-hari. Memang sih selama dua tahun di Jepang, kita berdua senantiasa membiasakan diri dengan adat-istiadat orang-orang di sini, termasuk dalam hal memilih menu makanan kita sehari-hari. Walaupun lidah ini terbiasa dengan nasi kuning, pecel, dan nasi goreng, tapi kan, mumpung di Jepang, sayang banget dong kalau kita nggak sekalian berbaur dengan adat-istiadat orang di sini. Istilahnya kan, sudah kecemplung, nyebur aja sekalian. Jadinya, gitu deh, kita coba ikutin kebiasaan orang-orang di sini.

Setelah duduk di hadapan semua mangsa empuk yang pasrah ini, langsung aja aku teriakkan “Ittadakimasu…” dan langsung memasukkan semua mangsa ini ke dalam mangkuk. “Dewi, bismillah dulu,” ucap Rene mengingatkan. “Oh iya, arigatou, Rene-chan.”

“Haha… manggilnya Rene-san aja, emangnya aku imut banget ya, manggilnya pakai chan?”

Tawa pecah di antara kita.

“Neko mana?” tanyaku heran, memecah keramaian di antara kita berdua.

“Eh. Mana ya? Biasanya dia ngikutin kamu terus kan, Dewi?”

“Waduh, aku khawatir eh, akan terjadi sesuatu?”

“Kayaknya nggak deh.”

“Coba deh kita cari.”

Selesai sarapan, langsung saja kita menelusuri jejak Neko. Semoga aja itu kucing kesayangan nggak hilang ke mana-mana. Rene yang lumayan jago dalam menelusuri jejak, mengamati dengan teliti setiap sudut lantai tiap kamar. Entah mengapa, kita belum bisa menemukan jejak Neko. “Gimana ini, Rene? Takutnya Neko diculik orang lagi. Takutnya dia pulang terus nggak bisa kembali, lagi. Aku khawatir banget.”

Miauw…

“Eh, ada suara Neko itu!” Aku senang banget mendengar suara kucing tercinta.

Setelah menelusuri suara tersebut, akhirnya kita sampai di atap rumah. Ternyata, di sana ada Neko dan kucing-kucing kecil. Pasti itu anaknya!

Imutnya…



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp