Prestasi, Harapan, dan Cahaya

Pecah!

Suara tepukan tangan saling bersahut ketika Cahaya maju ke panggung. Sesekali ada yang bersiul. Ada pula yang menjerit-jerit terpukau pada pesona dan aura Cahaya yang begitu kuat. “Inilah dia, Cahaya, siswi berprestasi di SMAN 11 ini. Berbagai penghargaan telah dia raih. Penulis terbaik di Kalimantan Timur, Debut terheboh se-Indonesia dalam peluncuran puisi kontemporer, hingga prosa berjudul My Hope and My Dream yang telah mendapatkan penghargaan dari PBB sebagai duta perdamaian dunia. Ya! Inilah dia, Cahaya, sudah berada di depan kita semua!” Horeeee….. Swuit…swuit… Wow…. Histeria penonton pecah.

“Silahkan, Cahaya, ini micnya.”

“Terima kasih, Pak Kepala Sekolah, tadi itu berlebihan banget loh.”

“Kawan-kawan semua.” Hening. “Bagi saya, bukan penghargaan yang segala-galanya. Namun, kehadiran kalian lah, kawan-kawan saya yang sangat saya cintai, yang membuat kehidupan saya menjadi lebih berwarna. Tanpa kehadiran kalian, hidup saya terasa hampa, dingin, dan kosong. Terima kasih, kawan semua, kalian luar biasa.” Horee….. Swuit…swuit… euforia menjalar ke seantero ruangan.

Sementara itu, di tengah-tengah ruangan….

“Penghargaan segitu aja bangga. Aku loh, yang menjuarai berbagai kompetisi desain tingkat nasional dan internasional, biasa aja. Nggak kayak dia, kebanyakan gaya! Lihat aja tuh nanti. Nggak lama, pasti prestasinya anjlok dan dia akan dijauhi oleh teman-temannya.”

“Prestasi, nggak boleh ngomong kayak gitu. Dia itu teman kita loh. Harusnya kan kalau dia senang, kita juga ikut senang. Setidaknya kan, kita bangga dong, SMA kita ini, SMAN 11 Samarinda, bisa terkenal di mata internasional. Coba lihat deh di belakang-belakang kita, banyak banget tuh stasiun TV nasional dan internasional yang meliput. Ada Net TV, CNN, Jazeera, Fox News, terus… apa lagi ya… banyak banget eh. Nggak hapal aku nama-namanya. Eh, Prestasi, lihat deh, ada Nyonya Oprah juga. Wah, bentar lagi pasti wawancara tuh. Keren…”

“Harapan, Harapan, kayak gitu aja kok dibilang keren. Aku loh yang kayak gitu juga tahun lalu biasa aja. Nggak kayak sekarang nih. Sok keren si Cahaya. Cuma penghargaan dikit aja, udah seneng banget. Aku yang kemarin diliput sama Smashing Magazine, Github, dan Linux Foundation, biasa aja.”

“Kan kamu sudah dapat jatah tahun lalu. Ya udah dong, sekarang kan gilirannya Cahaya. Harusnya ikut senang dong.”

“Udah ah, aku mau keluar aja. Panas. Prestasi, kamu mau ikut? Aku mau beli kopi Vietnam.”

“Mau banget dong. Itu kan favoritku. Kemarin diajak Jessica minum itu. Beh, rasanya tu loh, seger banget.”

Walkout.

Mading penuh dengan semut manusia.

“Eh, ada apa ini, rame-rame gini?”

“Kamu nggak tau kah, bintang kelas kita, Cahaya, dia buat cerpen bagus banget loh… Coba lihat deh. Terkesima kamu sekali baca!”

“Oh iya kah? Wah, penasaran banget!”

Cerpen

Cetar membahana! Wanita itu seolah-olah abai pada listrik raksasa dari singgasana langit yang tak kenal siapa kawan, siapa lawan. Wanita itu hanya tersenyum seraya berkata lirih pada Pria yang menatapnya dalam cemas. Darah mengalir terseok-seok dari bibir delima Wanita. “Sayang, bertahanlah untukku… Aku kan melakukan segalanya untukmu.”

“Entahlah. Walau kau seribu kali meminta, takdir tak bisa berdusta padaku.” Senyum.

Raga Wanita perlahan melemas. Desah nafas mulai tak beratur. Dingin. Dingin yang ditakutkan Pria menghampiri Wanita. Tidak! Tidak! Bertahanlah sedikit lagi, Wanita! Batin Pria. Dia sadar bahwa dirinya takkan bisa hidup sendiri. Pria itu sadar bahwa tulang rusuknya menjadi alasan bagi hidupnya untuk dapat terus hidup. Demi Wanita itulah dia berjuang siang dan malam, membanting tulang.

Pria itu hanya bisa menunduk lemas. Hampa. Sebegitu kejamkah kehidupan ini?

Elang-elang bersahut-sahutan di atas kedua insan tersebut. Berputar-putar. Berkelok-kelok. Bermanuver mengitari angkasa. Bebas. Pria meengamati betapa riangnya kehidupan para elang. Bahagia. Dia mulai percaya bahwa kehidupan sejatinya adalah bebas dan bahagia. Langkah kehidupannya mulai terang. Bercahaya. Kesedihan hanyalah akan meredupkan cahaya itu. Ketika aku bangkit, maka aku pasti bisa memperjuangkannya. “Hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah.” Dee Lestari.

No Name.

“Keren ya… Dalam banget cerpennya? Tapi kok judulnya Cerpen?”

“Iya eh. Misterius banget nih, Cahaya. Tapi kok nama penulisnya No Name ya? Beneran Cahaya kah yang nulis?”

“Iya dong! Siapa lagi coba sang maestro sastra kalau bukan Cahaya di dunia ini? Pasti dia lah.”

Terus saja semut-semut manusia itu bersahut-sahutan, seperti semut sesungguhnya, yang berdesak-desakan di tepi kiri mading, meributkan gula yang lebih besar daripada biasanya.

Mengapa judulnya Cerpen?

Pintar yang kebetulan berjalan melintasi gerombolan penikmat sastra di depan mading langsung saja mendekati karya sang maestro tersebut. Jari telunjuknya menyusuri cerpen Cerpen tersebut dari atas ke bawah. “Oh, ternyata gitu..,” gumamnya.

“Pintar, kamu dapat clue?”

“Hooh. Jadi, coba lihat cerpen ini. Semua paragrafnya diawali dengan huruf-huruf yang membentuk kata cerpen. C, e, r, p, e, dan n. Makanya diberi judul Cerpen.”

“Oh, iya kah?” Lalu, masing-masing dari mereka mencoba mengamati cerpen tersebut. Ah, benar!

Cetar membahana!…..

Entahlah. Walau kau seribu kali meminta, takdir tak bisa berdusta padaku.” …..

Raga Wanita perlahan melemas. ……

Pria itu hanya bisa menunduk lemas. …..

Elang-elang bersahut-sahutan di atas kedua insan tersebut. ……

“Huruf n-nya mana?”

“Coba lihat nama penulisnya: No Name, dari situlah huruf n yang terakhir.

Oh iya….

Prestasi dan Harapan yang baru keluar dari kantin, melewati kerumunan tersebut. “Sastra sampah,” ujar Prestasi. Semua mata menatapnya tajam. Prestasi tak peduli.

Prestasi menghujamkan tubuh penatnya ke kasur yang penuh dengan gambar Hello Kitty. “Hari yang buruk!” kutuknya. “Mengapa hanya anak itu yang terus-menerus mendapatkan pujian dari kawan-kawan sekolahan. Kan ada aku, yang lebih cantik, pintar, mampu melakukan hal-hal sulit. Namanya juga peretas. Harusnya kan aku lebih dikagumi. Apalagi zaman sekarang ini, yang namanya siber itu lagi ngetren kan: Gojek, Pesan Bungkus, Instagram, Picmix, Telegram, Catfiz. Sekarang itu sudah zamannya digital! Apaan itu sastra-sastraan. Kuno ah! Males aku sekelas sama dia! Kalau nggak disuruh sekolah, aku juga nggak mau sekolah. Mending kerja remote, bergabung ke Anonymous, retas situs-situs yang punya banyak duit, nyaman sudah hidupku.

Laper eh.

Ma…. steaknya sudah ready kah?”

Tak ada jawaban.

“Ma….”

Hening. Prestasi gelisah. Diapun kemudian keluar dari kamarnya, menyusuri lorong-lorong rumahnya yang besar, menuju kamar orangtuanya.

Di sana, kedua orangtuanya sedang menangis terisak.

Ada apa? Prestasi penasaran, tapi dia tak mau ketahuan menguping. Diapun kemudian bersembunyi di balik kamar dan menyimak dengan seksama. Hanya suara lirih yang terdengar, bergantian dengan isakan tangis yang tak terbendung. Kita bangkrut, hanya itu yang mampu ditangkap olehnya.

Bergetar.

Prestasi berlari menuju kamarnya. Berbagai pemikiran negatif memborbardir tak henti-hentinya. Kalau ayah bangkrut, aku tak bisa bersekolah lagi, tak bisa ikut kompetisi lagi, tak bisa beli pakaian lagi, tak bisa tidur nyaman di rumah lagi, tak bisa hidup bahagia lagi, tak bisa melakukan ini, tak bisa melakukan itu, tak bisa melakukan apa yang kusuka, aku akan dibenci di kelas, aku akan dibenci di sekolah, aku akan kehilangan teman, aku akan kehilangan segalanya. Dia berteriak di dalam hatinya. Hidup kejam!

Hari-hari berlalu. Prestasi terlihat murung. Membisu. Teman-teman di kelasnya mengkhawatirkannya. “Ada apa dengan Prestasi?” Penduduk kelas saling mempertanyakannya. Namun, Prestasi tak pernah menghiraukannya. Pandangannya kosong. Dia hanya pergi ke sekolah, duduk, pulang. Tidak mengeluarkan catatan, tidak menyapa teman sekelasnya, tidak menyapa Harapan.

Dia pun tak pernah menampakkan tangisannya, hanya malam-malam di pojok kamarnya, derai-derai air matanya senantiasa mengucur deras.

“Prestasi, boleh aku membantu meringankan bebanmu?” tanya Harapan di pagi pertama Prestasi murung.

Tanpa jawaban.

Bel pulang. Keeseokan harinya juga seperti itu. Keesokannya pula. Esoknya lagi. Entah sudah berapa minggu, suasana Prestasi gelap.

Di hari yang kesekian, di depan gerbang rumahnya, Ayah dan Bunda menyambutnya dengan senyum. Prestasi sinis. “Tak perlu dusta, Ayah, Bunda, kita bangkrut, kan? Aku sudah tau kok. Nggak usah ditutup-tutupi.” Kedua orangtuanya saling bertatapan heran. Ayah menatap tajam pada Bunda seakan berkata Kenapa kamu kasih tau! Namun Bunda menatap halus pada Ayah seakan berucap Nggak, Ayah, aku tak pernah memberitaunya. Tapi, ya sudahlah. Itu masa lalu.

Prestasi melewati mereka.

“Prestasi, kamu kenapa, Nak? Kita nggak bangkrut kok. Itu cuma drama, Nak. Kita kan lagi latihan acting. Masak kamu lupa kalau Ayah dan Bunda kamu artis Hollywood?”

Cuma drama? Prestasi heran dan dia yakin bahwa dia tak bisa ditipu.

Masa bodohlah. Prestasi menghampiri kamarnya, mengatasi kegilaan ini. Setidaknya dia bisa kembali normal di sekolah esok hari. Tapi kok tiba-tiba sudah malas ya, gangguin Cahaya. Sudah ah, aku tobat aja. Sudah pernah merasakan keterpurukan walaupn orangtua mengatakan kalau itu cuma drama.

Di depan gerbang, Ayah mengeluarkan secarik kwitansi bertuliskan:

Semua utang lunas - Cahaya.

Achievement, hope, and light are you….



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp