Arthur: The Excalibur Noumena

Dalam kitab petuah disebutkan: Kehidupan seorang manusia adalah anak dari takdir yang dimilikinya, juga anak dari kultur masyarakat di sekitarnya. Tak bisa manusia lepas dari takdir dan kultur yang mengikatnya.

Kitab petuah menyebutkan kembali: Kehidupan warga Inggris telah ditetapkan dalam takdir yang mengikat mereka; raja, bangsawan, tuan tanah, pekerja, kesatria, buruh; semua terdapat takdir yang mengikat mereka juga kultur pada masing-masing kelompok sosial mereka.

Petuah berkata untuk terakhir kalinya: Excalibur adalah pemecah takdir, pembuka kunci-kunci kemenangan, kesejahteraan, kebanggaan, kejayaan, kemenangan, namun menjadi kutukan bagi sang pemilik. Excalibur bukan pedang, sebagaimana manusia memandang. Dia adalah kutukan bagi keserakahan manusia.

Ratusan, ribuan, bahkan jutaan tahun telah berlalu. Masa demi masa silih berganti. Warga Inggris senantiasa hidup berdasarkan blok-blok yang mereka ciptakan sendiri: raja, bangsawan, tuan tanah, pekerja, kesatria, buruh. Stagnan dan penindasan, frasa yang sangat tepat dalam menggambarkan mirisnya kehidupan mereka.

Selama itu pulalah, excalibur masih lelap dalam tidurnya, menancap di atas batu legendaris, sebuah penyandaran bagi pedang yang legendaris.

Konon, selama waktu itu pulalah, tak pernah ada yang dapat mencabutnya, walaupun dari kesatria yang paling kuat sekalipun. Mengapa? Karena hanya hati yang bersih sajalah yang dapat mencabutnya.

Hingga akhirnya, excalibur hanya menjadi impian kosong bagi seluruh kesatria, urban legend bagi warga dalam mengisi waktu luangnya, dan bunga dongeng sang penghibur kerajaan. Mencabutnya? M.U.S.T.A.H.I.L.

Hari ini adalah hari yang sangat menentukan, juga sebagai ending dari kisah ini. Seorang pemuda bernama Arthur berkeinginan keras untuk mencabut pedang itu. “Apakah dia sanggup?” Itulah yang dipertanyakan oleh orang-orang sepanjang harinya, di pasar, di tempat pertemuan, di tempat ibadah, di manapun ada orang-orang yang berkumpul, senantiasa membicarakan kabar heboh itu. Mungkinkah hari ini kesaktian dari excalibur akan nampak di depan mata? Apakah mitos selama jutaan tahun itu akan berakhir di hari ini? Apakah mimpi setiap kesatria akan menjadi kenyataan?

Arthur mendekati excalibur.

Tangannya telah menggenggam pedang tersebut.

Dengan sekuat tenaga, Arthur mencoba menarik pedang itu. Orang-orang yang melihatnya merasa deg-degan. Keringat mengucur deras dari orang-orang yang menanti saat-saat bersejarah itu. Sedikit lagi, sejarah akan berkata. Sedikit lagi, pedang akan dicabut.

Dan…

Excalibur berhasil keluar dari persembunyiannya selama ini.

Memang bukan pedang, seperti yang dilihat orang. Excalibur berubah menjadi naga. Kegemparan melanda. Orang-orang lari tunggang langgang. Arthur dengan gagah berani, tidak lari, dan berusaha menghadapinya. Dia menghunus kedua pedangnya dari sarungnya di kanan dan di kiri.

“Aaaaa…..,” teriaknya.

Akankah berhasil?



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp