Seseduh Teh Pagi Ini...

Masih gelap, namun kutak sanggup tidur kembali. Azan telah bersahut-sahutan di masjid satu dan masjid lainnya. Subuh berjamaah. Akupun beranjak dari kosanku dan sesegera mungkin menunaikan kewajiban dari Ilahi: salat berjamaah. Dengan khusyuk, diriku bermunajat kepadanya, mengharap kebaikan pada pandangan hati yang sempit ini. “Oh, Rabbku, luaskanlah pandangan jiwaku…”

Seseduh teh hangat menyinari dunia batin selepas Subuh. Semerbak aromanya takkan mampu membuatku lelap dalam alam bawah sadarku. Pagi yang indah. Ohaiyou. Gutten morgen. Segala ungkapan kegembiraan selepas Subuh.

Pintu-pintu kosan masih tertutup rapat. “Mereka nggak subuhan?” batinku.

Pak Dewa, guruku sewaktu SMA dulu, menginap di arah jam 11 dari tempatku duduk. Beliau sedang menjalani tes-tes CPNS dan kuharap beliau berhasil memenuhi harapannya. “Apa sudah bangun?” Pastinya sudah, dong…

Srrrt… seseruput teh seduh di Subuh hari memang tak ada bandingannya kecuali zikir kepada-Nya. Ya, itu adalah nikmat terbesar sepanjang hidupku. Zikir, ngeteh. Oh… betapa nikmatnya kehidupan ini. Apalah arti polemik kehidupan kampus, hingar-binarnya, kritis-isme mahasiswa, ajaran psikoanalisa, kedisiplinan behavioris, kebijaksanaan humanis, eksistensialis, surealis, strukturalis, kubisme, abstrak-isme, minimalisme, isme ini, isme itu… Ah, tetaplah tak ada yang menggantikan dibandingkan:

Zikir.

Secangkir teh seduh di pagi hari.

Kuseruput lagi perlahan demi perlahan, sambil menikmati betapa nikmatnya kekuasan-Nya dalam secangkir teh yang sederhana. Akankah diriku senantiasa tenggelam pada dinamika kehidupan sedangkan Dia sangat dekat pada kita?

Srrrt… Ah, alangkah nikmatnya..

Sangatlah benar ketika Rasul mengatakan bahwa rizki terbesar adalah pada waktu fajar, detik demi detik setelah Subuh. Betapa besar karunia yang diberikan-Nya pada setiap hamba yang meminta pada waktu-waktu berharga ini, di saat segelintir manusia masih tetap saja terbuai dengan ilusi-ilusi mimpi.

Tak terasa, teh lenyap.

Menguap? Bukan, ditransfer ke dalam rongga pencernaanku.

Kumelangkah menuju pelataran kos. Dari sini, kudapat melihat betapa luar biasanya pemandangan selepas Subuh, lebih indah dari samudera Atlantik, samudera Pasifik, hamparan salju di kutub Utara dan Selatan. Oh… Pencipta… perlu berapa kali lagi kuharus mengucap setiap detail nama-Mu…

“Ari?”

Eh, Pak Dewa? Ya Allah, aku lupa nawarkan tehnya eh. Waduh.. gimana ini… Panik

“Eh, Pak Dewa… Pagi, Pak, silahkan, Pak, ngeteh dulu. Masih hangat kok..”

Senyum hangat,

sehangat teh pagi ini.



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp