Teruntuk Para Sahabatku, Sang Penjaga Quran, di Manapun Kalian Berada

Mungkin untaian-untaian kata berikut ini lebih tepat ditujukan bagi diriku sendiri…

Hai kawan-kawan, sang penjaga Quran, di manapun kalian berada. Mungkin bagi kalian yang telah lulus dari mahad kalian, mulai merasa susah menjaga hapalan Quran kalian. So, kuatkanlah diri kalian, kawan. Jangan mudah terpengaruh dengan berbagai godaan duniawi yang senantiasa melalaikan kita dari menjaga Quran. Mungkin, godaan-godaan tersebut bagi kita serasa seperti biasa saja. Namun, ketika berbagai godaan tersebut mulai menjauhkan kita dari Quran, masihkah disebut biasa?

Kawan, mungkin saat ini kamu mulai kesusahan melancarkan ayat-ayat-Nya dikarenakan jarang sekali dimurajaah. Berjuanglah. Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Tentunya, sesusah apapun perjuangan yang kita lakukan, pasti ada ujungnya, kan? Percayai itu. Kamu pasti bisa kalau kamu kokoh dalam perjuanganmu, tak bergeser tapak kakimu dari jalur Quran yang telah kamu pilih.

Apakah kamu merindukan kembali suasana malam-malam syahdu bermunajat kepada-Nya ketika di mahad dulu? Apakah kamu kangen dengan riuh-ramainya suara kawan-kawan kita yang berjuang menjaga ayat-Nya? Suara-suara yang saling bersahut-sahutan… Waktu itu, tak ada yang namanya waktu luang. Semua penuh dengan ayat-ayat-Nya. Di jam istirahat sekolah, di waktu menunggu iqamah, di dalam perjalanan menuju angkringan Pak Gustavo yang terkenal itu. Semua terasa indah bersama Quran.

Kawan, cobalah tengok gunung Lawu yang menjulang tinggi, kokoh, tangguh, di timur mahad kita. Ingatlah kembali berbagai memori kebersamaan dalam pendakian ekstrem menuju puncaknya. Lelah. Beku. Senyum. Tawa. Betapapun sulitnya dakian itu, pasti kita kan menuju puncaknya. Iya, kan?

Teruntuk sahabat-sahabatku yang telah mendahului kami di bumi para pejuang, kami takkan menyia-nyiakan semangat darimu supaya kami senantiasa menjaga ayat-ayat-Nya.

Sincere.



Organisasi

Himapsi ILMPI ODOP