C.E.C.Y

“Hore… akhirnya lulus juga!”

“Iya… akhirnya ya… nggak disangka banget loh…”

“Wah, habis ini kita kuliah di mana ya? Aku mau di Jawa aja lah. Kan bagus-bagus itu ya.”

Riuh ramai membanjiri siang terik ini, di bawah sinar matahari. Seantero siswa-siswi tak ada yang peduli mengenai betapa banyak peluh yang membanjiri keningnya. Ya, apalagi kalau bukan satu kata yang membuat kita semua bersemangat: LULUS! Seakan-akan kita telah meraih kembali sinar hidup yang telah lama direnggut oleh sang rembulan di persembunyiannya yang amat kelam. Gelap. Kering. Gersang.

Oke, hanya imajinasiku.

Apakah aku hari ini bahagia? Tentu! Tapi, hanya di satu sisi. Di sisi lainnya….

“Cecy, kenapa kamu sedih? Kita kan lulus. Apalagi kamu, Cy, kamu kan lulus dengan nilai memuaskan tuh. Kalau di kuliahan… apa ya itu namanya… cum laud kah itu.. Keren loh, kamu, Cy,” Sri menyemangati diriku.

“Cum laude, Sri,” jawabku sekenanya. Nggak kuat aku menahan air mata, menahan kesedihan ini.

“Cy,” lanjut Sri lagi, “apa sih yang membuatmu sedih? Kamu diputuskan sama pacar ya? Please, Cy, kita lagi bergembira, nggak perlu sedih gitu dong. Ayo semangat. Angkat kepalamu, Cy. Kamu harus kuat menghadapi semua tantangan ini.”

“Emang kamu tau apa yang aku hadapi, Sri?”

“Nggak sih.”

“Aku…. diterima… di Australia…”

“What!” Kaget banar Sri ini kam. Euforia ter-pause, menyaksikan teriakan tak tertahankan dari Sri. “Itu keren, Cy! Kamu diterima di Australia? Wow, wow, wow…. mimpi apa lah aku semalam? Hebat! Semua orang bakalan kagum sama kamu! Semua orang pasti ngiri sama kamu! Kenapa kamu malah sedih?” ‘Aku heran banar sama Cecy ni kam,’ batinnya Sri.

“Aku,” kucoba berkata walaupun lirih, walaupun pedih, “belum… menyelesaikan… hapalanku… dengan lancar..”

Hening.

Sri. Sahabat terbaikku, dia tau semua lika-liku kehidupanku. Termasuk, kegiatanku sehari-hari di perkumpulan tahfidz, menghapal kitab suci Al Quran. Tahfidz, secara bahasa artinya menjaga. Aku ingin menjaga kitab mulia ini dari kebencian orang-orang yang memusuhi Al Quran. Itu cita-citaku. Aku, kalau bercita-cita tak ingin setengah-setengah. Harus totalitas. Mereka berkata, aku robot. Mereka berkata, aku manusia metronom. Aku tidak peduli. Bagiku, presisi adalah sesuatu yang penting. Bagiku, masa depanku harus terukur dan terjangkau dengan langkah-langkah yang telah aku rancang. Tak peduli apa kata mereka.

Sri hanya memandangiku. Berdiri tegap, seolah paku menancap di kedua telapak kakinya. Aku, kedua telapak tanganku tak mampu menahan derasnya air perjuangan, walaupun sudah kucengkram wajah dengan sekuat tenaga.

Maafkan aku…

Masa depanku..

Aku……

(sudah tak sanggup lagi kuberkata)

Riuh. Pecah. Ramai. Gegap gempita. Saling bersahut-sahutan di siang panas terik ini. Menjadi backsound bagi kesedihanku. Kesedihan akan masa depan yang tak mereka pahami. Sri mengantarkanku ke tepi kelas. Meneduh. Agar matahari jahat ini tak mendidihkan kepalaku. Mungkin Sri berpikir bahwa teriknya siang ini akan dengan mudahnya membuatku pingsan, merusak keindahan siang ini. Keindahan? Bagiku kesedihan.

“Sri… besok siang aku langsung ke Sydney. Aku…” Pecah! Tak sanggup lagi kutahan deraian kenangan ini. Sri memelukku. Dia satu-satunya sahabatku yang paham betapa perihnya makna perpisahan, betapa beratnya arti dari perjuangan.

Tiga puluh menit berlalu dengan syahdu.

Satu per satu siswa-siswi beranjak dari SMA Negeri 1 Samarinda, kembali ke rumah masing-masing, mengabarkan euforia kelulusan pada keluarga yang menyambutnya dengan hangat.

Tinggal aku dan Sri.

“Terima kasih buat hari ini..”

Sri tersenyum.

Senyuman terakhir buatku….

AKU TAK INGIN PERGI!!!!

Pukul 05.00, bandara Sepinggan Balikpapan.

Pagi ini aku sengaja mengenakan pakaian yang lebih cerah. Kerudung warna gray, pakaian ungu cerah berbahan kombi katun rayon, dan celana kulot bermotif deraian bunga sakura berlatar pink agak putih berbahan katun poplin yang membuat gerak lebih leluasa.

Sakura, simbol cintaku pada jejepangan…

Kalau bukan karena semangat dari sahabatku yang satu itu, dan dukungan dari keluarga, tentunya aku nggak di sini. Aku lebih betah di Samarinda. Aku lebih suka berkuliah di sana, dekat dengan keluarga. Lagipula, aku nggak tau, suasana seperti apa yang akan kuhadapi. Aku cemas. Lantas, akupun membuka Quranku dan mencoba membacanya untuk meredakan kecemasanku. Kucoba membuka surat-surat di juz 30. Suratnya pendek-pendek. Ayatnya singkat-singkat. Namun memiliki makna yang sangat dalam. Sangat dalam. Bahkan, apabila kuceburkan diriku pada palung samudra Atlantis hingga ke dasarnya, takkan bisa menyamai dalamnya makna ayat-ayat juz 30.

Ketika sampai di surat Al Ikhlas, seseorang menghampiriku. “Ya Bint, madza tahzanin? (Anakku, apa yang kamu sedihkan?)”

Eh.

Agak aneh memang. Aku kan lagi ngaji, bukan sedih. Iya sih sedih, tapi kan nggak kutampakkan. Lagipula, ini siapa ya? Langsung bertanya, tanpa kenalan? Aku heran deh.

“La syai. I’m fine. Gracias.” Lagi pengen campur adukkan bahasa.

“Oh. Be careful. Allah always with you.”

Aku hanya bisa tersenyum.

Haaah… kusandarkan kembali punggung penatku pada kursi besi yang dinginnya menusuk tulang. Ya, tentu saja setelah bapak-bapak itu pergi. Bapak yang aneh, langsung ajak bicara, tanpa kenalan. Memang sih, kehadiran bapak itu sejenak mengalihkan perhatianku dari betapa rumitnya situasi yang akan kuhadapi nanti. Tapi, bismillah aja lah.

Aku terbang.

“Celaka! Kawan kita sudah tidak tertolong lagi!” teriak Akbar. Tentu saja aku dan beberapa kawan lain, di kelas yang sama, tidak sabar lagi melihat kawan kita yang berdarah pada keningnya. Ya, ulah siapa lagi kalau bukan ulah Michael, si senior yang namanya terkenal seantero Universitas Sydney. Memang kok gerombolan mahasiswa malas belajar, yang sukanya mengganggu orang saja. Aku, biarpun aku cewek sendiri di taman ini, tentu saja aku nggak akan membiarkan dong, kawan kita disakiti. Aku nggak terima! “Kalau kamu laki, ayo maju sini!” tantangku.

“I’m not scared, nuts!”

Weh. Ayo.

Hampir saja sore itu akan menjadi ajang pertumpahan darah. Ya, kalau tidak dilerai oleh bapak-bapak yang kutemui di bandara pagi itu. Pak Gabriel, dosen kita di fakultas psikologi. Perawakannya yang teduh, untaian katanya yang bijak, membuat kami kagum. Kami di sini bukan hanya kami, mahasiswa psikologi, tapi hingga civitas akademia seuniversitas. Pak Gabriel adalah sosok yang terdepan dalam mengatasi permasalahan mahasiswa, seperti sore ini, berbeda dengan dosen lain yang apatis. Tegas. Namun tidak menimbulkan sakit hati. “Apa manfaatnya berkelahi?”

Tak bisa kujawab pertanyaan sindirannya. Hanya menundukkan kepala yang bisa kami lakukan.

“Kalian tau yang harus dilakukan, kan?”

Iya, Pak, bersalaman, berpelukan, kami paham itu. Bapak kan selalu mengajarkannya di kelas. Kalau Michael? Apa dia paham? Oh, ternyata paham. Langsung saja Michael menyodorkan tangannya. Tapi maaf ya, kita bukan mahram. Akupun hanya mengatupkan kedua telapak tanganku, simbol bersalaman. Michael menaikkan alis kirinya. Heran. Ah, tak apalah. Pak Gabriel tersenyum.

Yah, begitulah kehidupan di Australia. Kamu tentu harus cukup tangguh untuk bisa hidup di sini. Nggak seganas di Amerika sih, tapi setidaknya lebih ganas daripada di Indonesia. Eh, di Samarinda.

Kejadian seperti itu tak hanya sekali. Michael seakan-akan tidak punya long term memory. Sudah bermaafan, melakukannya lagi kesalahannya. Entah susu apa yang membentuknya semasa bayi.

Aku, alhamdulillah bisa melancarkan hapalanku di sini, bersama kawan-kawan yang dengan senang hati menerima setoran hapalanku. Ya, dengan senang hati. Siapa sih yang nggak senang ditraktir burger?

Tahun keempat telah lewat. Besok aku pulang.

Cecy, Ph.D



Organisasi

Himapsi ILMPI ODOP