Hei! Aku Detektif Loh...

“Zen, kamu yakin bisa memecahkan misteri ini?” tanya Rahman yang dari tadi terus saja ngomel di sampingku. Risih tau.

“Bisa dong! Aku kan detektif hebat!”

“Please, bah, kita cuma supervisi dari detektif yang sebenarnya ya, nggak usah terlalu jauh mendalami kasus ini lah.”

Ini orang bisa diam nggak sih?

Sudah setengah jam. Eh, sejam ding, aku bermain dengan lup, menyusuri lantai tempat kejadian perkara, berharap moga aja ada petunjuk yang tertinggal di situ.

“Kok nggak ada petunjuk sih!” Aku kesal.

3 tahun yang lalu….

Aku menginjakkan kaki di akademi detektif. Impianku. Ya, aku tau sih kalau watakku ini, kurang cekatan, kurang peduli sama lingkungan, kurang reponsive. Yah… pokoknya kurang banget dah kalau yang namanya ketangkasan. Padahal kan, detektif itu harus cekatan ya, harus teliti, harus peduli sama lingkungannya. Tapi aku nggak eh. Ah, masa bodoh lah. Pokoknya kan ini cita-citaku, jadi aku harus berjuang sekuat tenaga untuk bisa mencapainya.

Setelah melalui proses tes masuk yang cukup bertingkat, akhirnya aku diterima di akademi ini. Nggak tau ya, harus mengucapkan alhamdulillah apa innalillah. Tapi, gimana ya, kan ini cita-citaku, jadi aku harus yakin bahwa aku bisa melaluinya.

“Bro…” Seperti ada yang memanggilku, tapi suaranya pelan.

“Bro…” Suara itu seperti memanggilku lagi.

“Woi..” Bah, apaan sih ni! Siapa yang memanggilku? Owalah, Rahman ternyata. “Hai juga, bro! Kamu masuk akademi detektif juga ternyata!”

“Iya dong. Kan aku memang minat sama ni jurusan. Kemarin aku tes RMIB, ternyata minatku di jurusan detektif-detektif gitu.”

“Owalah. Bareng kita.”

“Bareng? Whats? Kamu masuk sini juga? Tak kira kamu ngantar siapa gitu.”

“Plis.”

Waktu demi waktu pun berlalu. Akhirnya kita kalau ngerjakan misi bareng. Yah, misi-misi yang mengancam jiwa gitu ya. Nggak peduli deh apakah itu susah apa nggak, yang penting mah, bagi kita jalani aja dulu. Urusan akibatnya, ntar juga kelihatan.



Organisasi

Himapsi ILMPI ODOP