Bisakah Kita Berkomunikasi Satu Sama Satu, Tanpa Distraksi?

Fenomena sekarang ini, kita sering berkomunikasi di dalam grup, entah itu grup Whatsapp, LINE, Telegram, dan berbagai grup lainnya. Atau, kita berkomunikasi secara terbuka, secara publik, misalnya seperti berkomentar di Facebook, Twitter, LINE Timeline, dan aplikasi media sosial lainnya. Terkadang, akupun berpikir, “Bisakah kita berkomunikasi dengan orang lain secara private? Artinya nggak diketahui oleh orang lain?”

Kebebasan berbicara zaman sekarang ini memang terkadang membuat kita menjadi kebablasan. Apa aja diceritakan, atas nama kebebasan berpendapat. Aib orang lain disebarkan ke seantero warganet, atas nama menyatakan kebenaran. Entah mengapa zaman sekarang ini, warganet bisa saling bermusuhan satu sama lain. Terkadang, kalau dikroscek kembali, sebenarnya masalahnya adalah kesalahpahaman.

Nah, mengapa kesalahpahaman bisa terjadi? Tentunya adalah karena dalam menyatakan pendapatnya, atau ketika ingin mengklarifikasi suatu peristiwa, yang didahulukan adalah rasa curiga, atau mengikuti pandangan kelompoknya maupun partainya, tidak ada niatan tulus untuk mengetahui kebenaran peristiwa. Tidak ada keinginan untuk menanyakannya secara langsung, satu sama satu, atau bertemu empat mata.

Mengapa? Apakah tidak ada keberanian untuk menyatakannya? Apakah kita lebih suka berdiskusi secara terbuka supaya dilihat orang bahwa kitalah yang paling benar? Apakah kita lebih mendahulukan ego, seraya menabrak rambu-rambu superego, nilai, moral, dan kebijaksanaan?

Apakah kita susah berbicara secara intim dengan orang lain? Susahkah ya, berbicara hanya berdua, tidak di publik? Padahal sudah ada media sosial dan aplikasi perpesanan, tapi mengapa kita lebih suka untuk segera menafsirkan suatu peristiwa daripada bertanya langsung pada orangnya, padahal kan dia punya akun media sosial?

Renungkanlah.



Organisasi

Himapsi ILMPI ODOP