Masih Nyaman dengan Teknik-teknik Bisnis yang "Kadaluarsa"?

Zaman sekarang sangat dituntut yang namanya kecepatan, kemampuan multitasking, resource yang tinggi, storage yang besar. Gampangannya aja, kita analogikan dengan laptop.

Lalu, bagaimana dengan manusia? Apakah berbagai tuntutan zaman modern ini juga dituntut pada diri manusia?

Jawabannya adalah iya. Walaupun seolah-olah mengikuti kecepatan dan ketangguhan robot, sehingga terlihat seakan-akan manusia kalah daripada robot, kenyataannya adalah kita harus bisa bergerak cepat juga. Lebih cepat, lebih tangguh, lebih efisien. Bukan tujuannya untuk menyaingi robot, melainkah adalah karena sudah betapa banyak manusia di dunia ini melakukan efektivitas-efektivitas dalam pekerjaannya.

Jadi kan logikanya seperti ini, ketika ada banyak manusia yang mampu beradaptasi dengan peeubahan zaman yang begitu cepatnya, mampu multi tasking, mampu efisiensi waktu dan tenaga, mampu mengumpulkan data hingga menganalisanya, tentunya kan, apapun yang dilakukan olehnya, akan melejit secara luar biasa dibandingkan dengan orang-orang yang masih nyaman dengan teknik kerja tradisional.

Sekarang ada kanban, agile, scrum, waterfall, dan berbagai istilah baru lainnya dalam dunia manajemen yang patut kita simak. Minimal kita mampu mengenal dulu terkait definisi berbagai teknik tersebut hingga tata cara dan perbedaan satu sama lain.

Apakah melelahkan? Kalau iya, berarti bagus. Kita bergerak di dunia ini berarti tidak diam saja, ada sesuatu yang diusakan sehingga disebutlah sebagai pengusaha. Ketika seorang pengusaha enggan memperbarui pemikirannya, cakrawala pandangannya, tentunya dia akan dengan mudah tergepak oleh yang lainnya.

Apakah pengetahuan-pengetahuan baru ini hanya pada masalah duniawi?

Tentu tidak. Justru saya melihat, pengusaha-pengusaha zaman sekarang ini adalah penggerak masyarakat dalam aksi yang bernilai ibadah, seperti sedekah Jumat, coaching yang berlandaskan pada keimanan, dan berbagai macam kegiatan lainnya. Seseorang yang, dalam tanda kutip, bergerak dibidang duniawi bukan berarti dia lepas dari kehidupan ukhrawi. Tidak seperti itu. Karena kehidupan akhirat adalah tanggung jawab kita masing-masing, bukan ditanggung oleh ayah kita maupun malaikat.

Jadi, buka mata, bergeraklah.



Organisasi

Himapsi ILMPI ODOP