Di Kafe Itu...

Keheningan pecah. Di Kafe Hening kutersentak. Apa gerangan keriuhan ini terjadi? Manusia bergerombol di pojok kafe bagai semut berebut setengah bongkah gula. Penasaran diriku. Menyesap dalam himpit-himpitan. Siapa gerangan di sana?

“Jesika!?”

Kau adalah wanita riang, setauku. Ada apa denganmu? Menahan tangis, menekan telinga dengan kedua putih tanganmu, sesekali menjerit. Kamu sakit? Kuingin membantu dirimu. Tapi aku bingung! Apa yang harus kulakukan?

Lama kuberpikir.

Manusia-manusia semut ini tak juga lah menyingkir.

Kuberanikan diri melangkah mendekatimu. Menembus batas jarak personalmu. Kutau kau pasti sadar kehadiranku. Kutahan kekhawatiranku. Mencoba ramah. Kanan tangan kuulur, semoga kau meraihnya. “Jesika…”

Mata kita berpaut.

Genggamanmu sudah membuatku lega. Di sampingmu, kucoba fokus padamu. Menenangkan. “Jesika, kenapa?”

Tak juga menjawab. Apa gara-gara gerombolan manusia semut ini?

“Ke depan auditorium yok.”

Anggukan setuju.

Kugamit tangannya. Melintasi kerumunan. Tersenyum pada bunda kafe. Dengan motor, sampai di depan auditorium.

Kusodorkan teh kemasan, menyogoknya untuk bercerita. “Jadi gini Kak…” Sogokan berhasil.

“Aku…. merasa kesepian. Semua orang seperti tak ada yang mau berteman denganku. Semua orang seperti benci padaku. Apa guna kehadiranku di dunia ini? Mengapa mereka tak mengakui keadaanku? Mengapa mereka menyukai satu sama lain, selain aku? Kenapa Kak? Apakah aku berbeda? Apakah aku kurang cantik? Apakah aku merusak kehidupan mereka?”

Adikku yang satu ini memang terkadang baper tingkat dewa. Namun, tak mungkin kuujarkan itu padanya. Sebagai psikolog yang sudah memiliki jam terbang tinggi, tentunya sudah paham banget aku bahwa yang terpenting adalah empati, dan jangan menghakimi.

“Sejak kapan Jesika merasa kesepian?”

“Entah Kak. Sepertinya sejak dari terciptanya dunia ini, aku sudah ditakdirkan menjadi sang penyepi.”

Pikiran irasional apa lagi ini…., batinku.

“Mengapa sepi Jesika? Kan kamu punya kakak. Punya ayah. Punya bunda.”

“Iya sih. Tapi kawan-kawanku itu lo Kak. Kayaknya musuhi aku deh,” tangisnya mulai mereda, gitu dah cewek kalau mulai bergosip, tapi tak apa lah, “sejak aku mengembalikan buku catatannya si Roy. Iya, aku tau ai bahwa si Roy itu orangnya pintar, ganteng, atletis, cool, keren…”

“Itu merah kenapa di pipimu?”

Blushing. “Kakak tu na eh. Apaan sih!”

Cerita pun berlanjut. “Padahal kan Kak, aku nggak ada punya perasaan apapun ke Roy.” Dududududu~ barusan itu merah-merah di pipi apa ya… “Aku tu biasa aja kok bergaul sama siapapun. Nggak pernah ngajak orang lain musuhan.

“Mmm…. itu aja sih yang mau kuceritakan. Aku udah agak enakan sekarang. Aku kuliah dulu ya Kak…. Jangan lupa kalau ada yang minta dites psikologi, ajak aku, biar aku yang skoring. Duluan ya…”

“Tehnya jangan lupa dibayar.”

“Oh iya. Aduuuuh…. bunfa kafe pasti nyariin aku nih. Aku ke sana dulu Kak….”

“Iya Dek. Hati-hati.”



Media Sosial

Instagram LINE Surel Whatsapp