The Last Day

Hari ini adalah akhir dari segalanya.

Mentari pagi merangkak perlahan menuju tempat singgasananya. Orang-orang masih terlelap nyenyak di dalam tidurnya, walaupun adzan Subuh sudah membahana nyaring seantero angkasa. Hanya ada beberapa orang yang terbangun dan berjamaah di masjid. Salah satunya Nero.

Ketika berjalan menuju masjid, Nero berkata pelan kepada Angel yang ada di sampingnya, “Kamu tau kan yang namanya kiamat?”

“Ya. Emang kenapa?” Angel yang ditanya begitu, agak merinding mendengarnya.

“Pernah nggak kamu berpikir kalau misalnya esok hari adalah hari terakhir kita. Atau misalnya hari ini adalah hari terakhir di mana kita masih bisa berjalan menuju masjid.”

“Tapi kan, Ner,” tanggap Angel seketika, “kan masih ada orang yang pergi ke masjid. Masak bakalan kiamat?”

“Siapa?” Nero meninggikan intonasinya, “siapa yang rajin ke masjid? Kita ke masjid aja kan karena ada jadwal. Coba kalau misalnya Takmir masjid nggak tau apa-apa soal kiamat, pastinya kan nggak bakal ada jadwal kayak gini yang katanya sih untuk mencegah terjadinya kiamat.”

Tiba-tiba saja seorang ibu menjerit-jerit karena anaknya digorok lehernya di hadapannya langsung. Nero ingin menolongnya tapi itu dulu, ketika awal-awal di melihat keanehan ini. Kalau saat ini sih dia sudah biasa. Yah, memang seperti itu sih ciri-cirinya terjadi hari kiamat.

“Nero…” ucap Angel lirih seraya menundukkan kepala, “kapan sih kamu bakal menikahiku? Aku jadi malu kepada teman-temanku karena kita sering bersama tapi belum menikah juga.”

“What?” Nero tersentak kaget, “sudah lah, nggak usah bicara masalah itu dong. Ngapain juga sih kita bakal malu kepada teman-teman kita? Kan, kita berbeda dengan mereka. Hehehe….”

Akhirnya, sampailah mereka di masjid satu-satunya yang ada di negara ini. Ya, karena kemaksiatan sudah terjadi di mana-mana, sudah nggak ada lagi orang yang tau apa itu ibadah. Pembunuhan, pencurian, pelecehan seksual sudah menjadi pemandangan sehari-hari dan semua orang sudah biasa melihatnya. Semua orang sudah nggak risih dengan semua hal itu. Semuanya. Mungkin hanya Nero dan Angel sajalah yang risih. Tapi, mereka sudah tak bisa melakukan apa-apa.

Selesai shalat, ketika Nero mencari sandalnya, seseorang yang tak dikenal, memakai jubah panjang yang bermodel seperti jubahnya Assasin, lengkap dengan tudung kepalanya tiba-tiba saja menepuk pundak Nero dan otomatis dia menjadi pusing. Semuanya serasa berputar di kepalanya. Bumi serasa berputar. Dia tak bisa mendengar apa-apa kecuali suara Angel yang terdengar menjerit panik, “Nero… Nero…” Nero hanya bisa memegang kepalanya dan mencoba terus bertahan.

Seketika, senyap.

Hanya ada ruang hampa.

Tanpa warna.

Perlahan, kelopak matanya sudah bisa digerakkan sedikit.

Ketika Nero membuka matanya secara sempurna, dia agak kaget karena melihat sekelilingnya seperti ruang laboratorium dan tubuhnya terlilit banyak kabel, sekitarnya banyak benda-benda canggih yang Nero sendiri tak tau itu apa. Yang dia tau, ada monitor tua yang senantiasa menunjukkan gelombang tranversal dan selalu bergerak. Ada juga monitor yang hanya terisi angka-angka satu dan nol yang terus berganti cepat. Makin lama, Nero makin bingung. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba seseorang yang masih muda tapi terlihat sangat cerdas menghampirinya. Sepertinya dia itu profesor di sini. Tapi… jubahnya itu terlihat seperti jubah orang asing yang membuat dirinya terlahir di sini. Nero menjadi curiga. Dia bingung apakah dunia ketika dia bersama Angel ataukah dunia yang sekarang dia tersadar ini adalah “dunia”? Entahlah.

“Nero, ceritakan padaku tentang hari kiamat.”

Eh.


Ingin mendapatkan kabar terbaru dari dunia teknologi dan lifehack? Klik media sosial di bawah ini

Facebook Twitter LINE Telegram Android RSS