Di Manakah Diriku yang Asli?

Aku yang biasanya rame, merasa sepi dan menyendiri…

Hembusan angin perlahan yang menyejukkan jiwa merangkak melintasi keriuhan Festival Siswa yang diadakan setahun sekali. Seharusnya aku pun ikut menikmati acara langka yang jarang terjadi ini. Tapi entah… Sepanjang sore ini aku hanya menerawang puncak angkasa yang selalu terlihat indah. Dan kadang, aku berpikir, ratusan bidadari yang cantik jelita juga turut memandang wajah tampanku.

Ah, ngaco!

“Hai Faizin, ngapain aja kamu kok bengong sendiri di sini?”

“Apaan sih, Rudi, sakit tau kamu tepuk pundakku keras begini!”

“Ayolah fren, jangan bengong begini terus dong. Aku tau kamu kesepian sejak ditinggal oleh temanmu itu. Tapi, ayolah, kehidupanmu itu masih berjalan!”

“Hei, Di, jangan nyebut Sinta sebagai teman biasa! Dia itu adalah segalanya bagiku! Kalau dia tiada, aku merasa… kehidupanku pun… hilang,” ucapku sambil menundukkan kepala. Tanpa terasa, setitik air mataku menetes.

“Zin, tegakkan kepalamu dong! Kita nggak boleh terus-menerus terkekang oleh masa lalu! Kita punya masa depan bro! Jangan sampe kenangan masa lalu menghancurkan kehidupan indah kita di masa depan!”

Hening.

Semilir angin kembali merayap melintasi kerumunan orang.

“Zin, Rud, ngapain kamu ribut-ribut di tengah keramaian?” tanya Rose datar.

“Eh, iya, kita ngapain ya?” jawabku sambil memandang sekeliling yang sepertinya kami kedua jadi kelihatan kayak orang gila! Aneh kan, di tengah keributan, kami berdua malah teriak-teriak sendiri nggak jelas. Aneh kan.


Ingin mendapatkan kabar terbaru dari dunia teknologi dan lifehack? Klik media sosial di bawah ini

Facebook Twitter LINE Telegram Android RSS