Karena Kepribadian Sesungguhnya adalah Kumpulan Topeng-Topeng Kita

Manusia senantiasa hidup di balik topeng-topeng hingga akhirnya nanti dia menemui Tuhannya (Nini Towok)

Kepribadian, kalau dalam bahasa Inggris adalah personality, yang artinya adalah persona (topeng, bahasa Yunani). Dari terminologi ini, dapat dikatakan bahwa kepribadian kita adalah topeng-topeng yang kita bentuk sendiri, secara sadar maupun tak sadar.

Oke, itu kalau secara terminologinya. Penting nggak sih? Tergantung kita sih nganggapnya penting atau nggak. Nah, yang lebih penting adalah kejadian sebenarnya di kehidupan kita ini: Benar nggak sih bahwa kita selama ini senantiasa menggunakan topeng? Mengapa kita senantiasa menggunakannya? Apakah kita lebih betah menggunakan topeng daripada melepaskannya?

Sekarang, mari kita lihat contoh konkretnya. Kita lebih suka untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh orang banyak daripada melawan arus. Misalnya saja kita berada di sebuah kerumunan, contohnya di masjid yang ramai, di mana semua orang di situ sedang mengaji. Kamu berada di tengah kerumunan itu, lalu apakah kamu akan tidur-tiduran?

Oh, tentu saja otakmu akan memperingatkanmu ketika kamu mencoba melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang orang banyak lakukan. Tidur-tiduran? Kamu sendirian yang tidur-tiduran? Lihatlah orang banyak sekelilingmu. Mereka lagi ngaji. Aneh kan kalau tidur-tiduran sendiri? Itu namanya konformitas.

Konformitas: sebagian kecil topeng yang kita kenakan.

Mengapa aku katakan sebagian kecil? Karena kepribadian ini amatlah luas. Lihat saja keilmuan Psikologi yang terpecah ke dalam tiga mazhab besar: Psikoanalisa, Behavioris, dan Humanistik. Mereka memandang kepribadian dan kesadaran dalam sudut pandang yang berbeda-beda.


Ingin mendapatkan kabar terbaru dari dunia teknologi dan lifehack? Klik media sosial di bawah ini

Facebook LINE