Facebook BW WA Github Cari



Artikel Cerpen List Musik Pemrograman Puisi


Bukankah Kehidupan Kita (hanyalah) Estafet dari Kehidupan Sebelumnya?

01 May 2017

Terkadang aku merasa heran kepada diri kita sendiri, sebagai manusia. Mengapa kita tidak bisa melakukan sesuatu yang orang dulu bisa melakukannya? Mengapa kita selalu merasa lemah? Mengapa kita selalu merasa tidak mampu? Mengapa kita masih saja suka menunda waktu? Mengapa kita nggak bisa efektif? Mengapa kita nggak bisa efisien? Mengapa kita masih lemah itu? Mengapa kita masih lemah ini? Mengapa kita nggak fokus? Mengapa kehidupan kita (katanya) semakin parah? Mengapa mesti terjadi penurunan?

Kawan…

Tidakkah kau merasa semua ini aneh?

Pernahkah kamu didongengkan oleh orang tua kalian tentang sejarah masa lalu kalian? Sejarah kebanggaan bangsa kalian? Entah itu sejarah bangsa ini ataupun sejarah agama ini? Ataupun sejarah suku kalian? Klan kalian? Mengapa selalu diceritakan bahwa pada zaman dahulu, kita adalah bangsa yang maju, suku yang maju, marga yang maju, klan yang maju, sedangkan berikutnya dijelaskan bahwa pada zaman sekarang ini terjadi penurunan, degradasai, penurunan kualitas, amoralitas, kebejatan merajalela, kehancuran di mana-mana, hilangnya akhlak, hilangnya akal, hilangnya kehormata, putusnya estafet sejarah kebanggaan suku kita.

Sebentar…

Mengapa bisa terjadi?

Mengapa kehidupan kita ini lebih rumit daripada baris-baris sintaks yang menemani kebosanan kehidupanku?

Ya, mungkin bagi sebagian besar orang (termasuk aku), sangat sulit untuk memahami sintaks-sintaks bahasa pemrograman jadul macam Java, C, C++, C#, Julia, dan mudah sekali memahami bahasa pemrograman terbarukan macam Python dan Ruby. Tapi, walaupun beberapa bahasa pemrograman itu dianggap kuno dan jadul, mereka terus memperbaiki diri mereka, mengurangi bug, mempermudah sintaks, memperbanyak dokumentasi, memperluas komunitas. Sedangkan kehidupan kita? Mengapa kita tidak lebih baik daripada orang dulu? Bukannya orang dulu juga mengalami kegalauan? Dan tentunya sudah ada yang bisa mengatasinya kan? Nah, mengapa kita masih galau? Bukannya kalau memakai teori Neo Darwinisme, semua ini kan seleksi alam, jadi seharusnya data-data yang didapat oleh orang-orang zaman dahulu dalam memecahkan masalah, sudah terinstall di dalam pola pikir dan behavior kita.

Mengapa pula kita mempelajari semuanya dari awal? Belajar membaca dari mengeja, berhitung, menulis, hingga analisis-analisis rumit macam aljabar, logaritma, algoritma, semiotika, hermeneutika, filsafat, humaniora, dan berbagai macam keilmuan lainnya? Mengapa kita tidak langsung menggunakan sintaks import seperti di Python? Bukankah semuanya sudah ada librarynya? Bukankah semua pengetahuan itu sudah dipackage oleh kita versi lama? Versi 1.0? Bukannya sekarang kita sudah versi 2017.5? Mengapa kita masih saja belum bisa mengimport library-library yang sudah tersedia? Mengapa juga kita masih merasa bahwa kita lemah?

Mari kita renungkan…

Sumber gambar: img04.deviantart.net/d79d/i/2011/121/9/d/cats_life_by_apofiss-d3fb1qw.jpg

#artikel #kehidupan #edit

Tulisan Menarik Lainnya dalam Kategori Artikel

Baca Juga Ya


Copyright © 2018 Zen All Right Reserved - Created by Zen